Petani di Palu rugi karena gagal panen

id Petani,Kangkung,HUjan

Peneliti Untad Hasriyanti (kedua dari kanan) dan rekannya Burhanuddin Nasir (topi petani) serta mahasiswa bimbingan tengah berdiskusi di lokasi penelitian penggunaan pestisida nabati di Desa Oloboju, Sigi. (FOTO: DOK. UNTAD)

Panen kali ini benar-benar tidak ada hasilnya
Palu (Antaranews Sulteng) - Sejumlah petani sayur kangkung di Palu, Sulawesi Tengah merugi besar karena gagal panen akibat pengaruh curah hujan tinggi.

Maria, seorang petani kangkung di wilayah Malaya, Palu Selatan, Jumat membenarkan panen kali ini, rata-rata petani merugi.

"Panen kali ini benar-benar tidak ada hasilnya," kata dia.

Sayur kangkung yang dikembangkannya rusak dan tidak bisa dipanen. Daunnya keriting dan penyebabnya kemungkinan besar karena pengaruh hujan.

Ia mengaku curah hujan di Kota Palu dan daerah sekitarnya seperti Kabupaten Sigi cukup tinggi mengakibatkan lahan yang ditanami kangkung terendam banjir.

Menurut dia, setiap kali curah hujan meningkat, sayur kangkung dipastikan menjadi rusak, sebab kelebihan air. Apalagi, kata dia, sayur kangkung yang dikembangkan di lahan petani rata-rata jenis kangkung putih. Kangkung putih tidak bisa kelebihan air, bisa mati atau daunnya keriting.

Berbeda dengan kangkung lokal, justru lahannya harus selalu berair.

Hal senada juga disampaikan Tian. Ia juga mengaku panen gagal. Semua tanaman kangkung daunnya menjadi keriting.

Akibat gagal panen, iapun merugi jutaan Rupiah.

Setiap panen, jika sayur kangkunnya bagus, bisa menghasilkan sampai Rp2juta. "Tapi panen kali ini sama sekali tidak ada hasil," ujarnya.

Selama ini hasil panen petani dijual di sejumlah pasar tradisional dan modern yang ada di Palu,Ibu Kota Provinsi Sulteng.

Harga sayur kangkung di pasaran saat ini Rp1.000/ikat.***
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar