Nasdem salurkan 42 truk makanan untuk pengungsi

id Nasdem

Bendahara Umum DPP Nasdem Ahmad M Ali mengunjungi korban gempa dan tsunami di Pantai Barat Donggala (Antaranews Sulteng/Muhammad Hajiji)

Palu, (Antaranews Sulteng) - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasional Demokrat (Nasdem) mendistribusikan bantuan makanan sebanyak 42 truk atau sekitar 500 ton kepada korban bencana alam Palu, Sigi dan Donggala.

"Sampai dengan hari ini, bantuan yang telah terdistribusi kepada masyarakat sebanyak 42 truk," ucap Bendahara Umum DPP Nasdem Ahmad M Ali, Selasa.

Ahmad M Ali turun langsung ke lokasi-lokasi terdampak bencana alam gempa, lumpur, dan tsunami di bagian timur Palu, Donggala dan Sigi.

Ketua Fraksi Nasdem di DPR RI itu menyebut bantuan itu terdiri dari beras, indomie, air mineral dalam kemasan, dan perlengkapan bayi terdiri dari susu, popok dan seterusnya.

Bantuan itu untuk meringankan beban penderitaan masyarakat atau korban bencana yang saat ini masih berada di tenda-tenda pengungsian.




Ahmad Ali mengaku bahwa pengungsi masih dalam keterbatasan, mulai dari tenda pengungsian sampai dengan terbatasnya logistik.

Padahal bantuan dari berbagai penjuru masuk ke Sulawesi Tengah untuk korban gempa Palu, Sigi dan Donggala.

Ironisnya, korban bencana di lokasi-lokasi pengungsian masih terbatas dan harus berteriak lapar karena minimnya pasokan bantuan makanan.

"Bantuan sudah banyak sekali sampai di Palu, Sigi dan Donggala. Anehnya kok nda sampai ke masyarakat atau pengungsi," sebut Ahmad M Ali.

Ia juga mengaku bahwa Kementerian Pertanian memberi bantuan beras sebanyak 500 truk yang diangkut dari Makassar ke Palu.

Anehnya, bantuan itu juga belum sampai ke masyarakat. Padahal
Bendahara Umum DPP Nasdem Ahmad M Ali mengunjungi korban gempa dan tsunami di Pantai Barat Donggala (Antaranews Sulteng/Muhammad Hajiji)
bantuan dari Kementerian Pertanian suda beberapa hari tiba di Palu.

"Perlu ada koordinasi dalam penyaluran atau distribusi bantuan. Agat bantuan benar-benar sampai ke masyarakat," ujarnya.

 
Pewarta :
Editor: Muhammad Hajiji
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar