Wall Street turun tajam akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga

id Wall Street

Wall Street (reuters)

New York, (Antaranews Sulteng) - Saham-saham di Wall Street turun tajam pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena kekhawatiran kenaikan suku bunga dan aksi jual saham teknologi mengguncang pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average menurun 831,83 poin atau 3,15 persen, menjadi berakhir di 25.598,74 poin. Indeks S&P 500 merosot 94,66 poin atau 3,29 persen, menjadi ditutup di 2.785,68 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir jatuh 315,97 poin atau 4,08 persen, menjadi 7.422,05 poin.

Sektor teknologi mengalami hari terburuk dalam tujuh tahun, mendorong Dow ke hari terburuknya dalam delapan bulan terakhir.

Saham Amazon jatuh 6,15 persen, sementara Netflix menukik 8,38 persen. Facebook dan Apple juga masing-masing turun lebih dari empat persen

Sektor teknologi termasuk perusahaan-perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di Amerika Serikat dan mereka yang telah menjadi penyumbang terbesar terhadap perpanjangan pasar "bullish".

Ketakutan meningkatnya imbal hasil obligasi juga memberikan tekanan terhadap pasar saham.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun yang dijadikan acuan, mencapai 3,26 persen pada Selasa (9/10), level tertinggi sejak 2011.

Pada Rabu (10/10), imbal hasil surat utang pemerintah bertenor dua tahun mencapai 2,91 persen, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Para investor telah bergulat dengan suku bunga yang lebih tinggi, menyusul serangkaian data ekonomi utama dan komentar baru-baru ini dari pejabat-pejabat utama bank sentral AS.

Tingkat pengangguran turun menjadi 3,7 persen pada September, dan total lapangan kerja non-pertanian meningkat sebesar 134.000, menurut departemen tenaga kerja AS.

Pada September, rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada payroll atau penggajian non-pertanian swasta meningkat delapan sen AS menjadi 27,24 dolar AS. Selama setahun, rata-rata penghasilan per jam telah meningkat 73 sen AS atau 2,8 persen.

Ketua Fed Jerome Powell pekan lalu mengatakan bahwa bank sentral AS memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum suku bunga mencapai netral, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut bisa terjadi lagi dalam waktu dekat.

Harga-harga produsen AS meningkat 0,2 persen pada September, membalikkan penurunan tidak terduga pada Agustus dan sesuai dengan harapan.

Harga permintaan akhir turun 0,1 persen pada Agustus dan tidak berubah pada Juli. Pada basis yang tidak disesuaikan, indeks permintaan akhir naik 2,6 persen untuk 12 bulan yang berakhir pada September, kata Departemen Tenaga Kerja pada Rabu (10/10).

Penjualan pedagang grosir pada Agustus mencapai 511,1 miliar dolar AS, naik 0,8 persen dari tingkat direvisi Juli dan naik 9,2 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Data yang kuat dan komentar dari pejabat-pejabat The Fed dapat menjadi "bullish" untuk ekuitas, tetapi itu datang dengan efek samping memiliki kekhawatiran pada inflasi yang lebih banyak dan kenaikan suku bunga, yang pada gilirannya adalah negatif untuk ekuitas, para ahli mencatat.

Sementara itu, para investor juga bersiap untuk musim laporan laba mendatang, dengan J.P. Morgan Chase, Citigroup dan Wells Fargo dijadwalkan akan melaporkan kinerja keuangannya pekan ini.

Laba gabungan perusahaan-perusahaan kuartal ketiga diperkirakan akan meningkat 21,5 persen dari periode yang sama tahun lalu. Tidak termasuk sektor energi, estimasi pertumbuhan laba menurun menjadi 18,5 persen, menurut Thomson Reuters.

Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar