Ansor lakukan pemulihan trauma anak-anak korban gempa

id ansor

Anak-anak korban gempa di Desa Ramba, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, mengikuti permainan di lokasi pengungsian, Jumat (12/10). Mereka mendapat perhatian dari Gerakan Pemuda Ansor Kota Palu dan Pasangkayu dalam upaya pemulihan mental pascagempa 7,4 scala richter yang mengguncang Kota Palu, Sigi dan Donggala pada 28 September 2018. (Antara/Adha Nadjemuddin)

Candaan dan tawa para orang tua bersama anak-anak mereka, seakan lupa bahwa mereka sedang ditimpa bencana hebat yang merenggut nyawa dan menghilangkan harta benda.

Palu,  (Antaranews Sulteng) - Relawan Gerakan Pemuda Ansor Kota Palu, Sulawesi Tengah dan Pasangkayu, Sulawesi Barat, melakukan upaya pemulihan trauma bagi anak-anak korban gempa di Kabupaten Sigi, Jumat, dengan metode bermain.

Hal itu dilakukan relawan Banser Ansor usai menyerahkan sejumlah paket bantuan berupa kebutuhan pokok dan pakaian layak pakai.

Salah satu desa sasaran adalah Desa Ramba, Kecamatan Dolo Selatan. Hampir 80 persen rumah penduduk di desa jauh dari akses jalan trans kabupaten ini roboh saat gempa menghajar Kota Palu, Sigi dan Donggala pada 28 September 2018.

Trainer pemulihan trauma korban gempa dari Perempuan Banser Pasangkayu, Nurmala, mengajak puluhan anak korban gempa di desa itu bermain di tempat kumpul pengungsi di kompleks barak pengungsi.

Tempat tersebut sekaligus dijadikan para pengungsi untuk melaksanakan salat berjamaah dan berkumpul bahkan menjadi titik pembagian bantuan logistik.

Setelah diajak bermain, anak-anak kemudian diberi permainan tebak jawaban dengan hadiah buku tulis dan polpen. Bahkan diberi hadiah uang untuk celengan. Hal itu dilakukan secara bergantian dengan trainer dari Banser Sigi, Darmawan.

Para trainer juga memberikan motivasi kepada anak-anak untuk bangkit dan meraih sukses masa depan dengan rajin belajar.

Anak-anak korban gempa sangat antusias mengikuti pemulihan trauma tersebut bahkan ibu mereka juga ikut menonton bahkan tertawa bersama di tengah barak pengungsian.

Candaan dan tawa para orang tua bersama anak-anak mereka, seakan lupa bahwa mereka sedang ditimpa bencana hebat yang merenggut nyawa dan menghilangkan harta benda.

Diantara anak-anak korban gempa itu adalah Nuzran kelas 5 sekolah dasar dan Zakir kelas 1 sekolah dasar. Keduanya merupakan korban yang ditimpa reruntuhan masjid di desa mereka.

Nuzran dan Zakir saat gempa mengguncang keduanya berada di masjid hendak salat magrib berjamaah. Baru saja adzan dikumandangkan, tanah bergoyang dan masjid pun roboh rata dengan tanah.

Empat orang korban meninggal di tempat karena tertimpa reruntuhan bangunan masjid dan satu orang lainnya meninggal di barak pengungsian.

"Waktu itu saya sedang berjalan menuju masjid. Belum sampai di masjid langsung gempa," kata Karampa, imam masjid setempat.

Peristiwa nahas itu meninggalkan jejak dalam ingatan para korban terutama anak-anak sehingga perlu dipulihkan dari traumatik.

"Mereka nantinya akan menjadi saksi hidup setelah kami para orang tua ini tidak ada lagi," kata Karampa.

Dari 545 jiwa penduduk di Desa Ramba tersebut terdapat puluhan anak menjadi korban gempa. Selain itu juga terdapat 52 balita, 168 lanjut usia dan 300 perempuan.

Sebanyak 115 rumah penduduk di desa ini tidak layak lagi ditempati bahkan sebagian besar rumah menjadi puing rata dengan tanah.

Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar