Sebagian warga Parigi kembali ke rumah pascagempa

id gempa,parigi,bencana

Nampak sejumlah tenda pengungsi masih berdiri di lapangan sepak bola Desa Bambalemo Kabupaten Parigi Moutong, Senin (15/10). Sejumalah pengungsi masih memilih bertahan di tenda karena rumah mereka roboh akibat guncangan gempa. (Antara Sulteng/Moh Ridwan)

Kami belum bisa berbuat banyak, rumah saya hancur sementara masih tinggal di rumah keluarga.

Palu, (Antaranews Sulteng) - Sebagian warga Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah yang terdampak mulai kembali ke rumahnya pascagempa disertai tsunami dan likuifaksi terjadi pada Jumat, 28 September lalu.

Sebenarnya, kami masih trauma kejadian itu, tetapi dicoba pulang ke rumah untuk membersihkan barang-barang yang berserakan. Alhamdulillah, saat ini kami mulai menetap di rumah," tutur warga, Aswadin mencerikan, Senin.

Pria berusia 40 tahun ini mengatakan sudah dua pekan berada di tenda pengungsian dan merasa sudah aman untuk kembali ke rumah, sehingga memutuskan meninggalkan kamp pengungsian beberapa saat.

Berdasarkan pantauan, sejumlah titik pengungsian seperti di alun-alun Kota Parigi,  lapangan sepakbola di Kelurahan Masigi dan Desa Bambalemo terlihat sudah berkurang, sebelumnya tempat itu ramai dijadikan tempat pengungsian sementara.

Lokasi ini sempat dipadati pengungsi hingga membeludak, mereka khawatir dan takut terjadi gempa susulan yang masih berlangsung pasca puncak gempa berkekuatan 7,4 magnitudo.  

Baca juga: Korban gempa-tsunami Sindue trauma berat

Sedangkan di jalan jalur dua Kota Parigi yang semula dijadikan tempat pengungsian, kini sudah tidak terlihat lagi tenda yang berdiri dan hanya menyisakan rangka kayu bekas pemasangan tenda warga.

Kendati demikian, sebagian lagi masih terlihat tenda pengungsi berdiri di taman Masigi. Para pengungsi ramai disana, meski kondisi kota mulai berangsur-angsur pulih.   

Warga lainnya, Mohammad Aksa menuturkan dia bersama keluarganya sementara ini tinggal di rumah kerabatnya, karena rumahnya rubuh akibat dampak gempa tersebut.

"Kami belum bisa berbuat banyak, rumah saya hancur sementara masih tinggal di rumah keluarga. Kami berharap pemerintah bisa meringankan beban kami," harapnya.

Dampak Gempa berkekuatan 7,4 mangnitudo berdampak di kabupaten itu, merusak sebanyak 553 unit rumah warga di Parigi serta menelan korban jiwa 15 orang.

Untuk korban luka ringan sebanyak 104 orang,  luka berat 24 orang dan warga mengungsi sebanyak 2.088 jiwa.

Sementara untuk informasi perkembangan per 15 Oktober 2019 pukul 19.00 WIB, Penanggulangan Korban Bencana pascagempa disertai tsunami dan Likuifaksi Sulteng di Posko Satgasgabpad  hari ketiga perpanjangan masa tanggap darurat korban meninggal dunia ditemukan 2.100 orang.

Korban luka 4.612 orang, korban hilang 680 orang, korban tertimbun 152 orang, rumah rusak 68.451 unit, dan jumlah pengungsi 78.994 jiwa.

Data jumlah korban dimakamkan pekuburan massal masing-masing di Peboya 946 orang, pekuburan massal Pantoloan 35 orang, pekuburan massal Donggala 35 orang dan Pekuburan Keluarga 1.084 orang

Pewarta :
Editor: Fauzi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar