Orang Palu masih enggan makan ikan, harga anjlok

id harga ikan anjlok,palu

Tempat berjualan ikan laut segar di Pasar Masomba Palu sepi pengunjung dan pedagang, harga ikan anjlok sampai setengah harga pascagempa 28 September 2018. (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Palu (Antaranews Sulteng)  - Harga ikan di Kota Palu semakin anjlok pascagempa dan tsunami menghantam Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah itu 28 September 2018. 

"Sudah 40 hari pascabencana melanda Palu, Sigi dan Donggala, harga ikan belum juga stabil," kata Nirma, salah seorang pedagang ikan dari Parigi Moutong yang sehari-hari berdagang di Palu, Kamis. 

Nirma menyebut setiap harinya ia menjual puluhan kotak ikan laut kepada para pengecernya, namun hasilnya tidak seperti penjualan sebelum bencana.

Sasi, rekan Nirma memaparkan, biasanya harga ikan jenis katombo mencapai Rp800 ribu hinggal Rp1 juta perkotak, namun pascabencana, harganya merosot hingga Rp350.000. Harga eceran yang dulunya Rp20 ribu tiap lima ekor, kini tinggal Rp10 ribu tujuh ekor.

Di Pasar Masomba, harga ikan karang jenis katamba kini hanya Rp30.000/kg, yang sebelumnya Rp50.000/kg dan ikan putih 45.000/kg yang sebelumnya Rp75.000/kg.

"Situasi ini membuat pedagang merugi karena saat ini masyarakat kurang berminat mengonsumsi ikan basah," tuturnya. 

Menurut Nurma dan Sasi, jika kondisi itu berlanjut terus maka para pedagang ikan basah bisa gulung tikar.

"Kami tidak bisa berbuat banyak. Masyarakat takut makan ikan laut karena menganggap ikan memakan bangkai manusia. Kalaupun ikan-ikan ini tidak habis terjual, kami akan bagi-bagi kepada pedagang lainnya untuk di konsumsi," tambah Sasi. 

Ia mengaku agar ikan-ikan mereka terjual, pedagang terpaksa mengirim hingga ke luar daerah seperti Sulawesi Barat, Makassar dan Kalimantan Timur. 

"Kami tidak lihat lagi berapa keuntungannya, yang penting ikan-ikan ini bisa jadi uang seberapa saja," ujarnya.
 
Nelayan menyortir ikan cakalang hasil tangkapannya di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. (Antara/Basri Marzuki)
Pewarta :
Editor: Muhammad Hajiji
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar