Iran salahkan AS atas kejahatan terhadap manusia di Yaman

id Javad Zarif

Javad Zarif (@jzarif)

Ankara, Turki,  (Antaranews Sulteng) - AS bertanggung-jawab atas kejahatan terhadap manusia di Iran dan Yaman, kata menteri luar negeri Iran pada Kamis (8/11).

"Anda tahu apa @SecPompeo? Rakyat Yaman sendiri lah yang bertanggung-jawab atas kelaparan yang mereka hadapi. Mereka semata-mata mengizinkan pelanggan penyembelih kalian yang mengeluarkan miliaran dolar dalam pemboman bus sekolah & 'jutaan dolar untuk meringankan resiko ini' --untuk memusnahkan mereka tanpa perlawanan. #HaveYouShame," kata Javad Zarif di akun Twitter.

Pada 30 Oktober, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyerukan dihentikannya permusuhan di Yaman. Ia mengatakan di dalam satu pernyataan bahwa serangan pesawat tanpa awak dan rudal terhadap Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mesti dihentikan dan serangan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi harus berhenti terhadap daerah yang berpenduduk padat di Yaman.

"Persis seperti dengan Yaman, @SecPompeo menyalahkan Iran atas sanksi tidak sah AS yang menghalangi akses orang Iran ke layanan keuangan bagi makanan dan obat. Secara alamiah, kami akan menyediakan makanan buat rakyat kami meskipun AS melancarkan upaya. Tapi AS bertanggung-jawab atas kejahatan terhadap manusia di Iran & Yaman," kata Zarif, sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi.

Yaman tetap porak-poranda akibat kerusuhan sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah Al-Houthi menguasai sebagian besar wilayah negeri itu, termasuk Ibu Kotanya, Sana'a.

Konflik tersebut meningkat pada 2015, ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya melancarkan serangan udara di Yaman dengan tujuan memutar-balikkan kemajuan Al-Houthi.

Selama beberapa bulan belakangan, sebagian besar pertempuran telah terpusat di Al-Hudaydah, tempat kedua pihak terus berperang dalam memperebutkan pelabuhan strategis yang berada di antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Kerusuhan yang berkecamuk di Yaman telah menghancurkan sebagian besar prasarana, sehingga membuat PBB menggambarkan situasi itu sebagai salah satu "bencana kemanusiaan paling buruk pada jaman modern".

 

Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar