Singapura nyatakan kemajemukan terancam, serukan kerja sama lebih erat ASEAN

id Lee Hsien Loong

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong . (ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal/wsj/2018.)

ASEAN memiliki kesanggupan besar, tapi sepenuhnya menyadari apakah kita memilih untuk menjadi lebih terpadu dan bekerja keras mencapai tujuan saat kemajemukan terancam di bawah tekanan politik

Singapura, (Antaranews Sulteng) - Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada Senin menyerukan penyatuan lebih erat negara Asia Tenggara pada saat kemajemukan terancam.

Pernyataan itu dikemukakanya di pertemuan niaga di antara pertemuan pekan ini antara kesepuluh anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dengan mitra luarnya, termasuk Amerika Serikat dan China, yang terkunci dalam perang sengit perdagangan.

"ASEAN memiliki kesanggupan besar, tapi sepenuhnya menyadari apakah kita memilih untuk menjadi lebih terpadu dan bekerja keras mencapai tujuan saat kemajemukan terancam di bawah tekanan politik," kata Lee di Temu Puncak Permodalan dan Usaha ASEAN.

Lee sebelumnya memperingatkan bahwa perang perdagangan Amerika Serikat-China dapat berdampak besar dan buruk bagi Singapura dan bank sentral negara-kota itu memperingatkan bahwa itu dapat segera menghambat pertumbuhan.

Yang terutama tidak hadir dalam pertemuan pada pekan ini di Singapura itu ialah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengatakan sejumlah kesepakatan perdagangan banyak pihak selama ini tidak adil, dan mencela China atas pencurian kekayaan intelektual, hambatan masuk perusahaan Amerika Serikat bisnis dan melebarkan defisit perdagangan.

Tapi, Wakil Presiden Mike Pence akan hadir dan Perdana Menteri China Li Keqiang, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi serta Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe termasuk di antara yang diperkirakan bergabung dengan pertemuan ASEAN itu.

Li diperkirakan menggalang dukungan untuk Kemitraan Ekonomi Terpadu Kawasan (RCEP), yang sedang dirundingkan untuk menjadi kesepakatan perdagangan bebas, yang akan mencakup lebih dari sepertiga PDB dunia.

Kesepakatan itu mencakup 16 negara, termasuk China, India, Jepang dan Korea Selatan, tanpa Amerika Serikat.

Tidak jelas apakah Li dan Pence akan mengadakan pembicaraan terpisah di antara pertemuan itu, yang akan menjadi pendahuluan bagi pertemuan puncak Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir bulan ini di Buenos Aires.

Jika terjadi, perjumpaan itu akan menjadi pembicaraan tingkat tinggi di Washington, tempat kedua pihak mengutarakan perbedaan utama tapi tampak berusaha mengendalikan kerusakan hubungan, yang sudah buruk akibat perang tarif beberapa bulan belakangan.

Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar