LSI Denny JA: enam isu populer selama kampanye pilpres

id lsi

Lembaga Survei Indonesia (antaranews)

Jakarta ,(Antaranews Sulteng) - Hasil survei lembaga penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, menunjukkan terdapat enam isu atau program yang populer selama dua bulan pertama kampanye Pilpres berjalan.

"Berdasarkan survei kami, terdapat enam isu atau program yang populer selama dua bulan kampanye Pilpres," kata peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar di Jakarta, Kamis. 

Rully mengatakan isu atau program yang populer adalah isu atau program yang memiliki tingkat pengenalan atau diketahui publik 50 persen serta memiliki tingkat kesukaan atau ketidaksukaan diatas 60 persen. 

Semakin publik mengetahui suatu isu atau program serta semakin publik menyukai atau tidak menyukai suatu isu atau program, maka akan semakin populer. 

Berdasarkan survei LSI Denny JA, enam isu populer itu terdiri atas tiga isu yang disukai lebih dari 60 persen responden yakni penyelenggaraan Asian Games (96,5 persen), Kunjungan Presiden Jokowi kepada korban gempa dan tsunami Palu (93, 7 persen), kunjungan Jokowi ke korban gempa Lombok (94, 5 persen). 

Sementara itu,tiga isu yang tidak disukai responden yakni, hoaks Ratna Sarumpaet (89,5 persen), nilai tukar dolar Rp15 ribu (84,3 persen), serta pembakaran bendera HTI (83,6 persen). 

Rully mengatakan  karena populer, keenam isu itu memiliki efek elektoral. Sedangkan isu atau program  yang sempat mengemuka seperti tampang Boyolali, Prabowo kunjungi korban gempa Lombok, Prabowo tidak akan impor, rapat tahunan IMF, New Prabowo, politik sontoloyo, Yusril pengacara Jokowi-Ma'ruf tidak masuk kategori populer karena tingkat pengenalan responden terhadap isu-isu itu berada dibawah 50 persen dan mayoritas di antara isu itu memiliki tingkat disukai atau tidak disukai publik dibawah 60 persen.

Survei LSI dilakukan 10-19 November 2018, dengan melibatkan 1.200 responden. Survei dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuisioner, di mana tingkat margin of error survei plus minus 2,9 persen. 

Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar