Kisah penyintas Palu-Donggala

id palu,donggala

(Foto:Wahyu Putro A)

Gempa berkekuatan 7,4 pada skala Richter (SR) yang disusul gelombang tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018 menghancurkan sejumlah kota di wilayah Sulawesi Tengah. Dua kota terdampak paling parah terjadi di Palu dan Donggala.

Runtutan petaka di Sulawesi Tengah mengakibatkan lebih dari 2.000 orang tewas, dan sekitar 10.000 luka-luka. Guncangan gempa, terjangan tsunami, serta gulungan tanah likuifaksi memporak-porandakan Palu-Donggala dan turut menghancurkan pula para penyintas.

Subhan Bachong, salah seorang penyintas dari Palu menceritakan, ia berhasil menyelamatkan diri bersama anak istri sembari memapah kedua orang tuanya dari gempa yang disusul likuifaksi. Saat berlari menyelamatkan diri, dengan mata kepalanya ia menyaksikan puluhan orang tertimbun bersamaan dengan ditelannya Kampung Petobo oleh tanah yang mencair.

Cerita lain dituturkan Sukur Sultan. Ia tak kuasa menyelamatkan ibu, anak, dan cucu kesayangannya saat gelombang tsunami setinggi 1,5 meter menggulung kampungnya di Wani, Donggala. Penderitaan Sukur kian besar sebab ia tak lagi punya tempat berteduh karena gempa dan tsunami telah membuat rumahnya rata dengan tanah.

Kisah-kisah tersebut hanya dua dari tak terhitung cerita tentang pengalaman tragis para penyintas gempa, tsunami, dan likuifaksi yang menghantam kawasan pesisir Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Mereka memang selamat dari musibah, tapi selamanya mereka akan menyimpan luka. Mereka memang bertahan, tapi harus berusaha tegar untuk mencoba membangun kembali keping demi keping kehidupan dari getir kehancuran.

Foto:
 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar