Pemda Parimo dorong petambak udang tradisional beralih ke supra intensif

id Supra intenaif, perikanan, udang

Dr Hasanuddin Atjo saat mengenalkan teknologi budidaya supra intensif skala rakyat kepada wartawan di Palu, awal 2018 (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Teknologi supra intensif memiliki produktivitas 153 ton/ha, merupakan yang teertigngi di dunia dan ramah lingkkungan
Parigi (Antaranews Sulteng) - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mendorong para petambak udang tradisional di daerah itu untuk beralih menggunakan teknologi budidaya supra intensif Indonesia.
 
Kepala Dinas Perikanan Parigi Moutong Efendi Batjo yang dihubungi di Parigi, Selasa mengatakan penggunaan teknologi yang dikembangkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng itu memiliki keunggulan karena sangat produktif  tanpa  mengeluarkan investasi dan produksi yang tinggi dibanding tambak tradisional. 

"Teknologi supra intensif sudah terbukti jauh lebih produktif dibanding cara tradisional," ujarnya.

Teknologi budidaya udang supra intensif yang diluncurkan tahun 2013 ini memiliki produktiviotras 153 ton/hektare dan merupakan teknologi budidaya udang paling produktif di dunia. Sedangkan produktivitas tambak udang tradisional saat ini hanya sektiar 20 ton/ha. 

Menurut Efendi, teknologi itu tidak membutuhkan lahan yang luas, cukup di pekarangan rumah, budidaya udang dapat dilakukan karena teknologi ini sudah tersedia untuk skala kecil atau skala rakyat.

Dia mengaku masih banyak petembak di kabupaten itu yang tergantung pada tradisional karena masih kurangnya pemahaman cara pemanfaatan teknologi tersebut.
 
"Parigi Moutong sangat potensial untuk pengembangan budidaya udang, sehingga kami mendorong para petambak lebih meningkatkan produksinya dengan mereplikasi teknologi baru ini, " ujar mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Parigi Moutong ini. 

Sebagai upaya mendukung peningkatan produksi udang, kata Efendi Batjo, pada 2019 ini pemerintah setempat akan membangun satu demplot percontohan teknologi supra intensif sebagai tempat melatih petambak mengelola perikanan menggunakan teknologi modern yang ramah lingkungan itu.

"Kami menyiapkan benih untuk pengembangan prosuksi. Kami memperkirakan kebutuhan beni udang di tingkat petambak kurang lebih 60 sampai 80 juta ekor per tahun," tambahnya. 

Menurut Efendi, jika budidaya supra intensif yang ditemukan Dr hasanuddin Atjo ini diterapkan dengan baik, maka dengan jumlah benih 60 sampai 80 juta ekor itu Parigi Moutong bisa menjadi daerah penghasil uydang terbesar di Sulteng dan tentu berimplikasi sangat positif keapda penghasilan petambak.

"Kami ingin memangkas biaya produksi namun meningkatkan produktivitas tambak udang. Jalan keluarnya adalah menerapkan teknologi supra intensif Indonesia," tuturnya. ***1***
 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar