Membangun Sulteng dengan mengintegrasikan pariwisata-perikanan

id Hasanudidn Atjo,kadis KP,sulteng

Dr Hasanuddin Atjo (kiri) bersama Direktur Seameo Biotrop Dr Irdika Mansur Dr Muh Nur Sangaji (Univeristas Tadulako Palu) bersalaman usai menandatangani MoU pengembangan teknologi budidaya rumput laut di Bogor, Kamis (14/2) (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Palu (ANTARA) - SEKTOR kemaritiman nasional yang terdiri atas subsektor perikanan, pariwisata bahari, energi dan sumberdaya mineral, transportasi laut, serta kekayaan sumber daya hayati diperkirakan bisa menghasilkan Rp20.000 triliun pertahun jika dapat dikelola dengan baik (Joko Widodo, dalam Rakor Kemenkomar 2017 di Jakarta). 

Selanjutnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kita pada 2018 hanya sebesar Rp2.221 triliun dan total pendapatan negara atau Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih rendah yaitu sebesar Rp14.837,4 triliun dengan PDB perkapita Rp56 juta atau setara 3.927 Dolar Amerika Serikat, di bawah beberapa negara ASEAN lainnya. 

Idealnya PDB perkapita negara kita mencapai 6.000 Dolar AS. Karena itu diperlukan skenario bagaimana memanfaatkan potensi kemaritiman itu agar dapat meningkatkan pendapatan Negara dan kesejahteraan masyarakat.

Pendekatan industrialisasi

Daya saing di era digitalisasi saat ini dapat terbangun bila dirancang dan diimplementasikan dengan pendekatan industrialisasi. 

Ada lima tahapan yang harus dilalui untuk menjadi Negara yang industrinya mandiri dan berdaya saing yaitu: (1) menyusun roadmap (peta jalan) pengembangan; (2) menyiapkan sumberdaya manusia, (3) mempersiapkan inovasi-teknologi, (4) mendorong menjadi industri pra-komersial dan (5) menjadi industri komersial berkelanjutan. 

Roadmap, penyiapan SDM dan inovasi-teknologi merupakan problem utama kita dalam membangun daya saing industri. Ada roadmap, namun masih parsial, umum dan belum detail. Pendidikan vokasi untuk SMK dan diploma telah dibangun di mana-mana, namun lagi-lagi luarannya belum bisa memenuhi tuntutan pasar. 

Demikian pula dalam bidang pengembangan inovasi-teknologi masih berjalan sendiri-sendiri. Dana riset kita sekitar Rp24 triliun atau kurang lebih satu persen dari APBN. 

Missing link atau gap antara dunia riset (perguruan tinggi dan Litbang) dengan dunia industri masih lebar. Karenanya tiga faktor yang masih menjadi soal tadi harus menjadi perhatian dan pekerjaan rumah bagi pemerintahan yang baru nanti. 

Dibutuhkan regulasi yang memberikan insentif dan kemudahan, seperti dibebaskan dari pajak, bunga murah bahkan nol persen terhadap riset-riset yang dilakukan dunia industri, sehingga memperbesar jumlah penemuan. 

Selanjutnya missing link antara industri dan dunia riset dapat diperkecil dengan harapan terbangunnya sinergitas triple helix antara Academic, Bussines and Goverment yang biasa disingkat ABG. 

Apalagi saat ini sejumlah negara di dunia terus mendalami dan mengintegrasikan pengembangan industrinya dengan tuntutan era digitalisasi industri 4.0.

Inovasi-teknologi

Daya saing sebuah industri komoditas akan ditentukan oleh 3 faktor yang biasa disebut 3 K yaitu kuantitas, kualitas dan kontinuitas.

Penguasaan Inovasi-teknologi akan menjadi faktor kunci dan penentu untuk mewujudkan 3 K itu, makanya riset sangat dibutuhkan, karena tidak akan ada penemuan (invensi) tanpa riset, dan tidak akan ada inovasi-teknologi tanpa penemuan. 

Semangat dan dukungan riset pada komoditas unggulan menjadi strategis dan tidak terpisahkan dari upaya membangun daya saing industri kemaritiman. 

Perikanan di Indonesia merupakan salah satu subsektor yang potensial menyediakan pangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun masyarakat dunia. 

Ada sejumlah komoditas di pesisir dan laut yang telah berkembang dan memberikan devisa pada 2018 sekitar Rp4 miliar Dolar AS, namun masih perlu ditingkatkan peran dan kinerjanya menjadi berkali lipat. 

Komoditas itu di antaranya adalah tuna dan jenis lainnya (perikanan tangkap); rumput laut, udang, bandeng, kakap putih atau baramundi dan jenis ikan karang (perikanan budidaya).
 
Salah satu desinasi wisata kepulaun Togean yang terletak di Kabupaten Tojo Una-una Sulawesi Tengah (togean.net)

Peluang Sulawesi Tengah

Pemerintah daerah di beberapa wilayah di negeri ini telah menjadikan integrasi subsektor pariwisata dan perikanan sebagai salah satu lokomotif baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Sulawesi Utara sejak tiga tahun lalu telah membuka penerbangan langsung dari China ke Manado pergi pulang dan tahun ini dari Filipina ke Manado. 

Saat ini sedang digagas penerbangan Kinibalu-Manado-Kinibalu. Menurut catatan pada tahun 2018 menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Manado mendekati 124.830 orang dan didominasi turis China sekitar 85 persen dengan lama tinggal rata-rata 3,4 hari.

Pemerintah Sulawesi Selatan juga menjadikan integrasi subsektor pariwisata dan perikanan menjadi salah satu amunisi baru untuk mendorong perekonomian daerahnya.

Bandara Tanah Toraja saat ini sedang dipersiapkan untuk menjadi bandara internasional, sehingga Penerbangan dari negara lain dapat langsung ke wilayah yang dikenal dengan tujuan wisata Negeri di atas Awan itu. 

Selain itu Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan telah membangun kerja sama dengan Pemerintah Jepang dalam pengembangan subsektor perikanan. 

Provinsi Sulawesi Tengah yang berada di antara Manado di utara dan Makassar di selatan Pulau Sulawesi telah merasakan dampak dari berkembangnya subsektor pariwisata di dua daerah tersebut. 

Sejumlah komoditas, khususnya makanan asal laut (seafood) banyak dikirim ke Manado dan Makassar untuk memenuhi kebutuhan turis maupun tamu lainnya.

Tingginya permintaan bahan makanan asal laut tersebut antara lain menjadikan nilai tukar petani (NTP) subsektor perikanan di Sulteng meningkat menjadi 106 persen dan tertinggi di antara subsektor lainnya. 

Tentunya kita berharap Sulawesi Tengah dapat memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan yang lebih besar dengan membangun interkoneksi penerbangan yang masuk dari Utara (Manado) dan Selatan (Makassar), selanjutnya keluar dari tengah (Palu). 

Kesiapan Bandara Mutiara Sis AlJufri menjadi bandara internasional menjadi keharusan karena turis dapat terbang langsung kembali ke negaranya.

Ada sejumlah daya tarik wisata yang dimiliki Sulawesi Tengah yang tidak kalah baiknya dengan Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan, seperti Kepualaun Togian di Kabupaten Tojo Unauna; Pulau Sambori di Morowali; Patung Megalitikum Lore-Lindu, Kabupaten Poso, Tanjung Karang di Donggala sampai kepada wisata edukasi melalui pembangunan musium modern yang menggambarkan proses maupun dampak dari gempa, tsunami dan lukuefaksi di Palu, Sigi dan Donggala pada 28 September 2018.

Karena itu diperlukan roadmap yang mengintegrasi subsektor pariwisata-perikanan dan subsektor lainnya; penyiapan sumber daya manusia; serta penyiapan inovasi-teknologi maupun infrastruktur agar dapat mewujudkan sebuah wilayah dengan industri pariwisata yang mandiri dan berdaya saing. Semoga! (Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng)
Pedagang ikan berjualan di pinggir salah satu ruas jalan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (17/1/2019). Pemerintah setempat akan menyiapkan lahan untuk merelokasi pedagang yang kehilangan tempat usaha akibat bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj.
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar