Pertumbuhan ekonomi Sulteng 2019diperkirakan 6,4 persen

id Sulteng,2018,2019,Ekonomi

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah Miyono memaparkan kondisi perekonomian di Sulteng dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Februari 2019 di Press Room Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, Jumat siang (22/3). (Antaranews Sulteng/Muh. Arsyandi)

Palu (ANTARA) - Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2019 diproyeksikan akan terus membaik pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi yang meluluhlantakkan Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala pada 28 September 2018 lalu.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun ini di kisaran 6,0 sampai 6,4 persen, agak melambat dibanding tahun 2018 yang berada pada kisaran 6,3 persen.

"Melambatnya pertumbuhan ekonomi ini tidak lepas dari dampak bencana. Kita tahu sendiri tiga daerah itu yang terdampak parah dari aspek ekonomi akibat bencana tersebut," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng Miyono saat memaparkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sulteng edisi Februati 2019 di Kantor Perwakilan BI Sulteng, Jumat petang.

Walau melambat, Miyono mengatakan pertumbuhan ekonomi Sulteng 2019 masih lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5 persen.

"Dengan mempertimbangkan indikator ekonomi domestik, kondisi ekonomi serta perkembangan konstelasi global , pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan II 2019 diprakirakan membaik pada kisaran 6,3-6,7," ujarnya.

Ia menjelaskan membaiknya perekonomian Sulteng di triwulan II 2019 pascabencana 2018 disebabkan sejumlah faktor antara lain perbaikan sektor konsumsi rumah tangga yang sempat melambat.Kemudian tingkat investasi yang semakin meningkat seiring tahap rekonstruksi yang mulai berjalan secara masif dan pengembangan pabrik pengolahan baru pertambangan migas dan nikel.

 Dari sisi eksternal, tingkat ekspor diprakirakan masih berada pada level yang tinggi meskipun akan mengalami perlambatan.

"Tingkat impor diprakirakan masih akan tumbuh tinggi seiring masih kuatnya impor barang modal pendukung serta impor bahan baku industri stainless steel. Meski impor tumbuh tinggi dan ekspor tumbuh terbatas, ekspor bersih diprakirakan masih akan menghasilkan surplus," katanya yakin.

Sementara infalsi Sulteng pada Juni 2019 nanti, lanjutnya, diperkirakan menurun dibandingkan Maret 2019. Inflasi pada Juni diperkirakan berada antara 4,6-5,0 persen.

Tingkat inflasi yang melebihi target tersebut lebih disebabkan oleh faktor 'base effect' tahun sebelumnya  khusus pascabencana yang saat itu sangat tinggi.

"Namun jika dilihat perkembangan inflasi secara 'year to date', tingkat inflasi pada Juni 2019 diperkirakan hanya 1,61 persen. Masih cukup jauh dari target inflasi nasional sebesar 3,5 perseb," ujarnya.
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar