Kapal-kapal Inkamina di Sulawesi Tengah masih eksis melaut

id Inkamina,Morowali

Kepala Dinas KP Sulteng Hasanuddin Atjo (kiri) saat menyaksikan kapal Inkamina 222 yang sedang membongkar ikan di Bungku, Kabupaten Morowali, Sulteng, Kamis (14/3) (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Morowali (ANTARA) - Walaupun sudah berusia sewindu (8 tahun), namun kapal-kapal Inka Mina, bantuan pemerintah pusat untuk para kelompok nelayan di Sulawesi Tengah, yang bernilai sekitar Rp3 mililar per kapal, hingga kini masih tetap eksis melaut.

"Kapalnya masih 'fit' pak, baik bodi maupun mesin karena pemeliharaannya teratur. Hasil tangkapan kami juga bagus sekali. Terima kasih kepada pemerintah yang sudah membantu," kata Jamil, salah satu kapten kapal Inkamina saat ditemui kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo di Bungku, sekitar 650 kilometer dari Palu, pekan lalu.

Hasil tangkapan para nelayan yang menggunakan kapal berkonstruksi kayu ini tidak kalah dengan kapal-kapal baru produksi dari galangan. Contohnya, dua kapal Inka Mina yang dibangun Tahun 2011 di Kabupaten Morowali, masih tetap beroperasi sampai saat ini.

Dua kapal Inka Mina tersebut yakni dengan nomor lambung 224 dan nomor lambung 222. Inka Mina 224 saat ini dikelola Kelompok Nelayan Maritim Jaya sedangkan Inka Mina 222 dikelola Kelompok Nelayan Padecengi.

Jamil, Kapten Inka Mina 224, mengatakan di musim ikan seperti saat ini, hasil tangkapan bisa mencapai 8 ton dalam satu trip.

"Kalau sekarang, trip penangkapan, kita turun sore (sebelum magrib), pulangnya besok pagi. Jadi kurang dari 12 jam saja bisa dapat 8 ton," kata Jamil yang ditemui di Pelabuhan Dusun Kurisa, Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, belum lama ini.

Tangkapan neklayan pengelola kapal Inka Mina kata ini bisa lebih dari 8 ton. Apalagi dimusim ikan saat ini serta durasi trip yang bisa diperpanjang. Namun karena terkendala stok es balok, nelayan membatasi waktuy melaut karena tidak ingin hasil tangkapannya dibuang percuma.

"Ada dari Pabrik (es) di Pelabuhan Perikanan Kolonedale, tapi tetap belum cukup. Kita juga bersyukur, ada es dari Kodal (Kolonedale), karena banyak membantu kami," uJamil yang tinggal di desa yang jaraknya 180 km dari Kolonodale itu.

Soal kondisi kapal, kata Jamil, masih prima. Mulai dari bodi, mesin dan alat tangkap, semuanya masih asli seperti saat diserahkan pada 2011 lalu. Mesin bisa awet karena dilakukan perawatan secara rutin.

"Kalau untuk bodi, insya Allah sebelum puasa sudah mau masuk galangan untuk perawatan. Begitu juga untuk alat tangkapnya, kita juga rutin lakukan perbaikan kalau ada rusak ada robek," katanya.

Syahril, kapten Kapal Inka Mina 222 yang juga sekaligus Ketua Kelompok Nelayan Padecengi, mengungkapkan bahwa kapal yang dikemudikannya sampai saat ini fit dan bisa digunakan untuk menangkap ikan. Hasil tangkapan sama dengan Inka Mina 224.

Saat ditemui di Pelabuhan Perikanan Kurisa, kapal Inka Mina 222 dan Inka Mina 224, sedang bongkar ikan.

"Di palka (tempat penampungan ikan di kapal), ada sekitar 5 ton. Semuanya pelagis. Kita bisa tangkap dua kali lipat dari ini, tapi karena kurang es, jadinya hanya 5 ton," ungkapnya.

Hasil tangkapan tersebut, selanjutnya akan dibawa ke pasar lokal. Sebagian lagi dibawa ke Palu dan Palopo, Sulawesi Selatan.

Para nelayan membongkar hasil tangkapannya di Furisa, karena hanya berjarak beberapa meter dari dari PT IMIP di Bahodopi. Jamil dan Syahril, mengakui bahwa saat ini jumlah kebutuhan ikan di Bahodopi dengan hadirnya beberapa perusahaan tambang meningkat pesat.

"Kita bongkar di pelabuhan, selanjutnya pembeli yang datang jemput. Saat ini saja, sudah ada mobil yang stand by yang akan bawa ikan ini ke Palopo," tandasnya. 

Kadis KP Sulteng Hasanuddin Atjo mengatakan bahwa kehadiran puluhan kapal Inkamina di seluruh kabupaten/kota se-Sulteng memberiakn dampak pada peningkatan produksi perikanan yang tidak saja meningkatkan kesejahteraan nelayan tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan terkendailinya inflasi.

Kapal Inkamina bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk nelayan Morowali Tahun 2011 siap membongkar ikan di Desa Vatufia, Kamis (21/3) (Antaranews Sulteng/Hanif)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar