Warga Tanjung Sari Luwuk kembali berbaur bersama Polri

id Tanjung Sari,Polres Banggai

Warga Tanjung Sari Luwuk kembali berbaur bersama Polri

Kapolres Banggai AKBP Moch Sholeh SIk (ANTARA FOTO/ Seteven Pontoh)

Kami masih tinggal di tenda darurat selama dua tahun ini. Kita berharap ke depan pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan masyarakat Tanjung Sari
Luwuk (ANTARA) - Warga korban penggusuran di Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Luwuk, Kabupaten Banggai, kembali berbaur bersama jajaran kepolisian setempat dalam acara buka puasa bersama setelah sebelumnya sempat bentrok hingga menyebabkan beberapa warga ditangkap.

Buka puasa bersama pada Minggu (19/5) itu dihadiri langsung Kapolres Banggai AKBP Moch Sholeh SIk bersama jajarannya dan warga Kelurahan Karaton, khususnya kompleks penggusuran lahan Tanjung Sari. 

Menurut Kapolres, buka puasa itu salah satu kegiatan Polres Banggai dalam mengisi bulan suci Ramadan dan dinilai sangat spesial karena warga di tempat itu masih sangat membutuhkan perhatian dan sentuhan pascapenggusuran.

Pada Maret 2018, warga di Tanjung Sari digusur berdasarkan putusan kasasi No.2351-K/Pdt/1997, Putusan Pengadilan Tinggi Sulteng No.81/Pdt/1996/PT.Palu dan putusan PN Luwuk No.02/Pdt/G/1998 yang memenangkan pemohon eksekusi atas nama ahli waris Ny. Berkah Al-Bakkar.

Hingga kini warga tetap bertahan di lahan tersebut meski hidup dalam kondisi terbatas dan menetap di hunian darurat.

Pada buka puasa bersama Minggu petang itu, warga dan Kapolres terlihat menyatu dan makan bersama melantai di jalan raya yang telah dialas dengan terpal dan karpet. 

Makan bersama dengan menggunakan daun pisang sebagai alas makanan itu juga membuat keakraban dari kapolres dan warga begitu terasa.

“Kenapa makan di bahu jalan dan menggunakan daun pisang karena masyarakat yang datang cukup banyak sehingga dilaksanakan di jalan," katanya.

Demikian halnya makan di daun itu karena tidak ada batasan, tidak ada jabatan dan tidak ada kapolres dalam suasana seperti itu. 

"Kami ingin membangun sinergitas dengan masyarakat tanpa melihat adanya posisi jabatan,” kata Sholeh.
Buka puasa bersama pada Minggu (19/5) itu dihadiri langsung Kapolres Banggai AKBP Moch Sholeh SIk bersama jajarannya dan warga Kelurahan Karaton, khususnya kompleks penggusuran lahan Tanjung Sari.  (ANTARA FOTO/ Seteven Pontoh)


Mengenai kepastian hukum terkait kondisi Tanjung Sari, Kapolres mengatakan semua masih perlu diteliti dan butuh pendalaman sebab kasus Tanjung Sari masih ditangani Polda Sulawesi Tengah dan pihaknya tidak berwenang untuk mengomentari.
 
“Kami juga sudah pernah diundang oleh pemerintah pusat bersama pimpinan daerah lainnya. Ya, harapan kami ada secercah harapan buat warga Tanjung Sari,” harapnya.

Kapolres menegaskan bahwa kehadiran Polri di kompleks Tanjung Sari tidak lain sebagai upaya pendekatan-pendekatan kemanusiaan dan sosial, sehingga tidak ada trauma masyarakat kepada institusi kepolisian pascabentrok warga dengan aparat setempat beberapa waktu lalu.

“Sebagai Kapolres saya senang sekali masyarakat mau menerima kami dengan keterbukaan," katanya.

Di bulan yang suci ini, kata Kapolres, institusi kepolisian dan warga berdoa dan berharap ke depannya ada perhatian dari pemerintah terkait kepastian hukum atas lahan mereka.

Sementara itu, Mama Fala, korban penggusuran lahan Tanjung Sari mengatakan sangat senang karena kapolres sudah mau datang untuk berbuka puasa bersama. 

Ia mengatakan saat ini dirinya dan keluarga masih terus bertahan di rumah darurat untuk bertahan hidup. 

Oleh karena itu, sangat berharap adanya perhatian pemerintah atas kondisi mereka. Terlebih, kondisi sang suami yang tengah mengalami sakit dan tak bisa mencari nafkah. 

“Kami masih tinggal di rumah darurat, suami sudah kurang sehat serta tak lagi bisa mencari nafkah untuk keluarga. Cucu sudah tidak sekolah karena kondisi keuangan keluarga,” terangnya.

Senada dengan itu, Atik, juga warga Tanjung Sari mengatakan untuk situasi saat ini kondisi warga Tanjung sangat susah. 

Ia mengaku mereka sangat mengharapkan perhatian pemerintah, terutama untuk kepastian hukum atas lahan mereka.

“Kami masih tinggal di tenda darurat selama dua tahun ini. Kita berharap ke depan pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan masyarakat Tanjung Sari," katanya.

Atik bersyukur karena kapolres bersama jajarannya masih peduli dengan kondisi mereka. 

"Anak-anak masih sekolah tapi mereka tak lagi bisa mendapatkan uang jajan karena kondisi keluarga. Tapi anak-anak tetap sekolah,” ungkapnya.***
 
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar