Pemkab Parigi Moutong gandeng ulama untuk perkuat hubungan kemasyarakatan

id MUI Palu,Pemkab Parigi Moutong,Halal Bi Halal

Ketua MUI Palu Prof KH Zainal Abidin MAg menyampaikan ceramah pada halal bi halal yang di selenggarakan oleh Pemkab Parigi Moutong, di Parigi, Selasa. (Antaranews/Muhammad Hajiji)

Halal bi halal yang dilaksanakan merupakan perwujudan perhatian Pemerintah Kabupaten Parigi Moutongdalam pembinaan masyarakat dan keagamaan
Palu (ANTARA) - Pemeirintah Kabupaten Parigi Moutong menggandeng ulama dalam rangka pembinaan kemasyarakatan dan memperkuat hubungan silaturahim antarsesama manusia dan pemeluk agama di kabupaten tersebut.

Pembinaan melibatkan ulama juga  tokoh masyarakat, pemuda, tokoh perempuan dan ASN di lingkungan Parigi Moutong,

“Halal bi halal yang dilaksanakan merupakan perwujudan perhatian Pemerintah Kabupaten Parigi Moutongdalam pembinaan masyarakat dan keagamaan,” ucap Ketua Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Parigi Moutong Zikrullah AW Tangara di Parigi Moutong, Selasa.

Ketua MUI Palu Prof Zainal Abidin saat halal bi halal mengatakan  merupakan salah satu tradisi yang baik, dilakukan oleh umat Islam dan pemerintah setelah menjalankan ibadah puasa dan pasca-Idul fitri.

Tradisi ini, sebut Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu, hanya ada di Indonesia, tidak di laksanakan di negara-negara lain. Hal itu karena, halal bi halal, di cetus oleh ulama di Indonesia.

“Ini bukan sesuatu yang bid’ah, atau sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Halal bi halal, salah satu isisnya yakni membangun dan memperkuat silaturahim. Agama, khususnya Islam sangat menganjurkan untuk membangun silaturahim antarsesama manusia,” ujar Guru Besar Pemikiran Islam Modern IAIN Palu itu.

Karena itu, menurut dia, halal bi halal tidak perlu di pertentangkan, tidak perlu di perdebatkan. “"Kalau ada yang katakan bahwa halal bi halal tidak ada di zaman nabi, memang iya tidak ada dari segi nama, tapi dari sisi substansi ada di zaman nabi dan dilakukan oleh nabi," ungkap Prof Zainal Abidin.

Tradisi yang baik ini pertama kali dikenalkan atau digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Tokoh Besar NU ini diundang oleh Presiden Pertama RI Soekarno ke Istana untuk berdiskusi atas adanya pertengkaran antarpara elit politik. Maka KH Abdul Wahab Chasbullah menawarkan solusi kepada Presiden Soekarno dengan menggelar halal bi halal. Maka, halal bi halal pertama kali di laksanakan yakni di Istana Negara di momen Idul Fitri.

Rois Syuria Nahdlatul itu mengemukakan halal bihalal tidak hanya diperuntukan bagi sesama umat Islam.

"Halal bihalal itu kegiatan silaturahim yang didalamnya ada maaf dan memaafkan. Memohon maaf dan memberi maaf tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi kepada manusia atau semua umat antaragama," kata Ketua FKUB Sulteng itu.

Rektor Pertama IAIN Palu itu mengutarakan umat Islam boleh mengundang pemeluk agama lain untuk hadir dan mengikuti halal bihalal. Bahkan, tegas dia, ketika umat pemeluk agama lain memohon maaf kepada seorang muslim, maka harus diberi maaf.

Hal itu sejalan dengan perintah Alquran yang tertuang dalam Surah Al-Imraan Ayat 134 yang artinya "Orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnyadan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".

Di ayat tersebut disebutkan menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Garis bawahi orang lain, itu berarti menunjukan majemuk, tidak hanya kepada umat Islam," kata Zainal Abidin.
Wakil Bupati Parigi Moutong, Badrun Nggai menyampaikan sambutan pada halal bi halal yang di selenggarakan oleh Pemkab Parigi Moutong, di Parigi, Selasa. (Antaranews/Muhammad Hajiji)
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar