Kemenkes: Kesehatan reproduksi remaja pascabencana penting diperrhatikan

id Kemenkes, remaja, reproduksi, palu,Unfpa

Diskusi hasil awal rencana aksi riset remaja perempuan dan pemuda di situasi bencana, di Palu, Selasa (25/6). (Antaranews/Moh Ridwan)

Palu (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menilai pemenuhan kesejahteraan kesehatan reproduksi remaja dan pemuda korban becana di Sulawesi Tengah merupakan hal penting dan prioritas dilakukan. 

Pejabat Kementerian Kesehatan Wara Pratiwi Osing, di Palu, Selasa, mengatakan pentingnya kerja sama semua pihak dalam memenuhi serta menjaga kesejahteraan remaja di masa kritis atau pascabencana melalui koordinasi klaster kesehatan dan subklaster kesehatan reproduksi. 

"Pemenuhan hak kesehatan dan kesehatan reproduksi perempuan remaja dan pemuda harus prioritas, sebab kelompok ini sangat rentan mengalami kekerasan maupun pelecehan seksual, " ujar Wara Pratiwi saat menghadiri workshop hasil awal dan diskusi rencana aksi riset remaja perempuan dan pemuda di situasi bencana, di Palu, Selasa.

Guna memaksimalkan pemenuhan hak kesejahteraan remaja dan pemuda, maka harus didukung ketersediaan pelayanan kesehatan peduli remaja dan pelaksanaan paket pelayanan awal minimum kesehatan reproduksi yang harus saling mendukung atara pemerintat pusat dan pemerintah daerah termasuk lembaga-lembaga yang konsen terhadap perlindungan perempuan dan anak. 

Masa pemulihan pascabencana di Sulteng banyak temuan-temuan organisasi kemanusiaan menyangkut masalah sosial di selter pengungsian atau hunian sementara khusunya kesehatan reprodukai remaja dan pemuda. 

Dari temuan itu, tidak sedikit anak usia rema sudah berumah tangga atau perkawian anak yang menurut Kemenkes usia seperti itu belum layak karena masih dalam masa pertumbuhan meskipun secara bologis remaja perempuan sudah bisa berproduksi. 

"Situasi ini bisa memicu kematian ibu dan bayi saat proses persalinan karena secara fisik masih terlalu muda," katanya. 

Asisten kepala perwakilan Lembaga Pembangunan Internasional (UNFPA) Melania Hidayat memaparkan, perlindungan hak dan kesejahteraan kesehatan reproduksi remaja memerlukan koordinasi dan kemitraan kuat lintas sektor dengan pelibatan aktif para remaja dan pemuda korban bencana.

Pelibatan itu mulai dari fase darurat kemanusiaan atau tanggap darurat, pemulihan hingga pascabencana yang perlu keterlibatan pemerintah serta pemangku kepentingan. 

"Remaja dan pemuda adalah penyintas, sehingga program bantuan kemanusiaan harus tepat sasaran. Mereka sebagai penerima bantuan, sebagai sumber informasi untuk memahami isu remaja pascabencana dan sebagai pelaku aktif dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan untuk kebijakan serta program kemanusiaan yang ramah remaja, " tutur Melania. 

Menurutnya, berbagai keterbatasan fasilitas seperti sarana air bersih, layanan kesehatan hingga keamanan ruang privasi menjadi pemicu terjadi kerawanan kekerasan seksual.

"Kerentanan remaja perempuan dan pemuda pascabencana adalah tantangan kemanusiaan yang kompleks dan memerlukan kerja sama katif berbagai organisasi kemanusiaan untuk membangun program komperehensif perlindungan hak, termasuk hak kesehatan reproduksi, " tutur Melania. 
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar