Wawali Palu: persatuan Indonesia harga mati

id Palu,Kota Palu,Pasga,Pasha,Pasigala

Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said saat membawakan materi di depan ratusan mahasiswa dalam talkshow mengenai peran kaum milenial dalam merawat keutuhan NKRI di era revolusi 4.0 yang dilaksanakan Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Jawa Sulawesi Tengah di salah satu warkop di Palu, Sabtu malam (3/8). (Antaranews Sulteng/Imron Nur Huda)

Palu (ANTARA) - Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said yang akrab disapa Pasha menegaskan persatuan Indonesia merupakan harga mati dan tidak ada toleransi bagi oknum-oknum yang ingin merenggangkan persatuan  Indonesia.

"Soal persatuan, bukan bagaimana pemerintah atau pemuda menjadi pemersatu atau apa dampak kalau kita tidak bersatu. Saya kira persatuan adalah harga mati," katanya saat membawakan materi di depan ratusan mahasiswa dalam talkshow mengenai peran kaum milenial dalam merawat keutuhan NKRI di era revolusi 4.0 yang dilaksanakan Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Jawa Sulawesi Tengah di Palu, Sabtu malam.

Pernyataan tersebut dikemukakan vokalis band Ungu itu mengingat diskusi-diskusi dan pertanyaan-pertanyaan mengenai persatuan Indonesia di kalangan mahasiswa terutama di Kota Palu mulai timbul.

Penyebabnya, keragu-raguan dan kekhawatiran yang muncul dalam hati para mahasiswa melihat fenomena ujaran kebencian, cacian, makian bahkan kontak fisik yang terjadi sebelum dan sesudah pemilihan presiden yang dikhawatirkan akan menyebabkan perpecahan antar warga yang dapat berujung bubarnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kalau kita tidak bersatu dampaknya akan sangat bahaya. kalau negara kita rusak, kalau negara kita hancur yang akan merasakan dampaknya kita sendiri," ucapnya.

Dalam kesempatan itu ia mengajak seluruh lapisan masyarakat di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu, baik warga, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, adat dan mahasiswa agar berpegang teguh menjaga semangat   persatuan.

"Mari jadikan momentum Dirgahayu Republik Indonesia ke-74 untuk meningkatkan hubungan antarsesama, hindari sekat-sekat, tembok-tembok dan batasan-batasan. Mari bangun kesatuan dan persatuan lewat organisasi atau lembaga yang dimasuki," ajaknya.
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar