Jalur Kulawi masih putus akibat diterjang banjir dan tanah longsor

id banjir kulawi,jalan putus kulawi,sulawesi tengah

Jalur Kulawi masih putus akibat diterjang banjir dan tanah longsor

Warga mengendarai sepeda motor berusaha melewati jalan yang dipenuhi lumpur, bebatuan serta material lainnya pascabanjir bandang di Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (14/8/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj. (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Sigi (ANTARA) - Jalur provinsi yang menghubungkan Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, dengan sejumlah wilayah di Kecamatan Kulawi Raya, Kabupaten Sigi hingga kini masih putus akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi beberapa hari lalu itu.

Pantauan Antara, Kamis, badan jalan pada ruas jalan tersebut antara Dusun Sadaunta sampai Desa Namo, Kecamatan Kulawi masih tertimbun berbagai material batu-batuan dan batangan-batangan kayu baik yang masih utuh maupun limbah.

Khusus untuk kendaraan roda empat sama sekali belum bisa melintas, sebab badan jalan masih tertimbun dan perlu beberapa hari lagi untuk membersihkannya.

Sepeda motor bisa lewat, tetapi harus dibantu didorong oleh masyarakat karena medan jalan masih sangat sulit dilewati.



 

Akibat terputusnya jalur tersebut, distribusi berbagai bahan/barang kebutuhan pokok masyarakat yang selama ini di datangkan dari Palu masih terhambat.

Hasil-hasil pertanian dan perkebunan seperti kakao, kopi dan kemiri yang selama ini sebagai sumber utama ekonomi masyarakat di tiga wilayah yakni Kecamatan Kulawi, Kulawi Selatan dan Pipikoro belum bisa di pasarkan ke Kota Palu.

Dampak dari bencana alam banjir bandang yang terjadi pada Selasa (13/8) tersebut juga mulai mendongkrak harga berbagai kebutuhan pokok di wilayah Kulawi dan Pipikoro yang merangkak naik tajam.

Rendy Mutaher, salah seorang warga Desa Makuhi, mengatakan bensin dijual dengan harga Rp15.000/botol, naik dari normalnya hanya Rp10.000/botol, minyak tanah dari Rp12.500, naik menjadi Rp17.000/liter dan gula pasir dari Rp14.000/kg, kini naik menjadi Rp18.000/kg.

Masyarakat berharap jalur yang putus akibat diterjang banjir segera dapat dinormalisasi agar arus kendaraan barang maupun penumpang kembali lancar mengingat jalur itu merupakan satu-satunya.

"Tidak ada jalur alternatif. Jalan itu hanya satu-satunya yang menghubungkan wilayah Kulawi Raya dengan Kota Palu sehingga perlu mendapat penanganan secepatnya oleh pemerintah daerah," kata Rendy.*