Warga binaan Rutan Parigi didominasi tahanan narkoba

id Rutin, tahanan narkoba, Parigi moutong

Plt Kepala Rumah Tahanan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah Agustinus. (ANTARA/Moh Ridwan)

Palu (ANTARA) - Otoritas Rumah Tahanan Negara (Rutan) Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengatakan, penghuni ruran tersebut didominasi tahanan kasus narkoba.

"Presentasenya hampir 50 persen tahanan kasus narkoba baik laki-laki maupun perempuan, " ungkap Plt Kepala Rutan Parigi Agustinus, di Parigi, Minggu.

Saat ini peredaran barang haram tersebut di tengah masyarakat semakin merajalela, tidak sedikit pengguna narkoba harus berurusan dengan hukum, terbukti penghuni rutan Parigi didominasi kasus tersebut.

Guna mencegah peredaran narkoba di lingkungan pemasyarakatan, otoritas setempat telah menetapkan aturan ketat, dimana setiap pembesuk narapidana wajib melalui proses pemeriksaan oleh sipir yang bertugas termasuk barang bawaan mereka, begitu pula narapidana wajib tes urine.

"Aturan ini sudah lama kami terapkan dan sudah sesuai standar operasional prosedur lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan sebagai upaya mencegah peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang, " ujar Agustinus.

Selain kasus narkoba, tahanan kasus kekerasan terhadap anak atau kekerasan seksual menempati urutan kedua di Rutan Parigi.

Memurut dia, narkoba adalah musuh bersama, maka semua pihak memiliki tanggung jawab mencegah peredaran barang haram tersebut di lingkungan masing-masing agar tidak ada lagi anak bangsa menjalani hukuman di rutan maupun lembaga pemasyarakatan akibat penyalahgunaan narkotika.

Negara juga secara tegas menyatakan tidak ada kompromi bagi pengedar atau bandar narkoba hingga sanksi paling berat dijatuhan yakni hukuman mati.

"Saat ini penghuni Rutan Parigi sudah mencapai 209 orang, 13 di antaranya adalah tahanan perempuan, " katanya.

Agustinus menilai, jumlah tahanan yang sedang menjalani pembinaan saat ini sudah melebihi kapasitas rutan. Idealnya, jumlah penghuni maksimal 150 orang dengan ketersediaan tujuh blok.

"Jumlah ini sudah membludak. Kondisinya sudah seperti ini, tidak ada jalan lain musti harus sabar. Sebelumnya sudah ada usulan penambahan blok tetapi belum terakomodasi," kata dia.
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar