Relawan Monga'e gelar upacara HUT RI di Rano I Tole sekaligus ekspedisi

id Mongae,morowali utara,relawan mongae

Relawan Monga'e gelar upacara HUT RI di Rano I Tole sekaligus ekspedisi

Suasana pengibaran bendera pada upacara peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI oleh Relawan Monga'E Morowali Utara di Rano I Tole, Sabtu (17/8) (Antaranews Sulteng/Ale Lande)

Rano I Tole atau dikenal dengan peristiwa senja berdarah, merupakan tempat penghadangan yang dilakukan para pejuang suku Mori terhadap penjajah Belanda bulan Juli 1907. 
Kolonodale (ANTARA) - Sejumlah 132 anggota dan simpatisan relawan Monga'e Morowali Utara, Sulawesi Tengah, memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI dalam suatu upacara di lokasi situs sejarah Rano I Tole, Desa Tomata, Kecamatan Mori Atas, Sabtu (17/8).

Lokasi upacara tersebut masuk dalam kawasan perkebunan sawit PT. Sinar Mas. Karena tidak ada lokasi yang luas, upacara tersebut dilaksanakan di sungai dengan air yang mengalir dari pegunungan. 

Upacara tersebut menggunakan tata cara dalam bahasa daerah Mori kecuali pembacaan teks Proklamasi dan Pancasila tetap menggunakan bahasa Indonesia. 

Bertindak selaku inspektur upacara adalah Tadulako (pemimpin) Relawan Monga'e Morowali Utara, Alwun Lasiwua, sedangkan komandan upacara adalah anggota Polisi Pamong Praja Filson Adoe, sementaera penggerek bendera dari siswa-siswi SMP Negeri Po'ona, Kecamatan Lembo Raya.

Selain anggota Relawan Monga'e yang datang dari berbagai desa se-Kabupaten Morut, peserta upacara tersebut juga diikuti siswa-siswi SMK Negeri Petasia Barat, SMK Lembo Raya di Beteleme, dan beberapa Kelompok Pecinta Alam (KPA).

Dalam sambutannya, Alwun Lasiwua menjelaskan mengapa upacara ini dilaksanakan di kawasan situs Rano I Tole. 
Tadulako Relawan Mongae Alwun Lasiwua memberikan arahan kepada anggotanya yang melaksanakan ekspedisi Rano I Tole sehubungan peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI oleh Relawan Monga'E Morowali Utara di Rano I Tole, Sabtu (17/8) (Antaranews Sulteng/Ale Lande)

Menurut dia, Rano I Tole atau dikenal dengan peristiwa senja berdarah, merupakan tempat penghadangan yang dilakukan para pejuang suku Mori terhadap penjajah Belanda bulan Juli 1907. 

"Peristiwa di Rano I Tole ini punya nilai sejarah yang penting dalam membela dan mempertahankan kehormatan negeri ini dari tangan penjajah," jelas Alwun yang sehari-hari menjabat Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Morut itu.

Pada sore harinya, peserta upacara meninjau lokasi pertempuran di Rano I Tole dengan berjalan kaki. Di lokasi itu Alwun kembali menjelaskan tentang peristiwa berdarah tersebut. 

"Orang lain bisa saja bercerita setelah membaca buku atau mendengar dari cerita orang lain. Namun kita tidak sekedar membaca tetapi sudah melihat langsung lokasi bersejarah ini," ujarnya.

Para peserta upacara tersebut berkemah selama tiga hari, 16-18 Agustus 2019. Selain upacara dan melihat lokasi, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi mengenai sejarah perjuangan Mori, khususnya peristiwa berdarah Rano I Tole. 

Ekspedisi Rano I Tole ini merupakan ekspedisi yang ke-12 yang dilakukan Relawan Monga'e Morut. Setiap peringatan HUT RI dan Sumpah Pemuda, Monga'e selalu melaksanakan upacara di lokasi situs sejarah sambil mempelajari situs setempat. 

Relawan Monga'e aktif mempelajari dan melestarikan situs sejarah perjuangan rakyat Mori di Sulawesi Tengah. Paguyuban ini juga sering melakukan kegiatan sosial seperti bedah rumah bagi masyarakat tidak mampu. 
Foto bersama usai upacara peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI oleh Relawan Monga'E Morowali Utara di Rano I Tole, Sabtu (17/8) (Antaranews Sulteng/Ale Lande)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar