Warga tujuh desa di Sigi butuhkan air akibat kekeringan

id ACT,KEKERINGAN,SIGI,PALU,PADAGIMO,Sulteng

Lembaga Kemanusiaan Global Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan air bersih kepada warga di Kabupaten Sigi, Sulteng. (FOTO ANTARA/Muhammad Hajiji/HO-Chandra ACT)

Distribusi air bersih menjadi salah satu fokus program kemanusiaan yang dilaksanakan oleh ACT di Sulteng
Palu (ANTARA) - Lembaga kemanusiaan global  Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyatakan warga tujuh desa pada dua kecamatan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membutuhkan bantuan air bersih akibat kekeringan dari berbagai pihak untuk keberlangsungan hidup.

"Sudah sebulan terakhir kami dari Aksi Cepat Tanggap (ACT)  telah melakukan distribusi air bersih kepada warga yang ada di wilayah kekeringan, maupun warga yang tinggal di hunian sementara (huntara). Setiap harinya dipasok 5.000 liter air bersih," kata Humas ACT Sulawesi Tengah, Chandra, di Palu, Senin.

Chandra mengatakan, tujuh desa di dua kecamatan itu, menjadi sasaran ACT dalam distribusi bantuan air bersih kepada warga.

Tujuh desa yang menjadi sasaran ACT ialah Desa Maranata, Desa Sidondo Satu dan Desa Sibowi untuk wilayah Kecamatan Sigi Biromaru. Kemudian, untuk wilayah Kecamatan Dolo meliputi Desa Solouwe, Karawana, Sidera dan Jono Oge.

Ia mengatakan selain membantu tujuh desa itu. ACT juga berupaya memenuhi kebutuhan air bagi warga yang berada di wilayah kekeringan, seperti di Palu, Sigi dan Donggala serta beberapa wilayah lainnya di Sulteng.

"Distribusi air bersih menjadi salah satu fokus program kemanusiaan yang dilaksanakan oleh ACT di Sulteng," kata Implementator Global Kurban ACT, Mohammad Jakfar.

Baca juga : ACT penuhi kebutuhan air korban gempa di pengungsian

Sebagian wilayah di Palu, Sigi dan Donggala dilanda kekeringan, seiring dengan musim kemarau sejak Mei dan diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2019.

Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri Palu menyatakan musim kemarau dari Mei sampai Oktober, masih dalam kategori biasa, atau dalam kategori normal. Akan tetapi, kondisi normal itu, terasa lebih panas untuk empat wilayah meliputi Kota Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong.

Kondisi itu dipengaruhi beberapa faktor yaitu tutupan awan sedikit, penyinaran matahari berlangsung secara maksimum.

Disebutkan bahwa untuk Kota Palu dan sekitarnya penyinaran matahari berlangsung kurang lebih 10 jam. "Ini berbeda dengan beberapa wilayah di Indonesia yang hanya berlangsung delapan jam," kata Koordinator Analisa dan Pengolahan Data Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Aljufri Palu, Affan Nugraha Diharsya.

Ia menambahkan cuaca panas yang terpusat di Palu dan sekitarnya, berdampak pada rendahnya kelembapan. Sehingga kondisi panas terasa lebih terik.

Kelembapan Kota Palu berkisar 30 - 40 persen pada siang hari, sedangkan di daerah lain 40 - 50 persen. Karena itu, suhu yang terpantau 33 - 37 derajat Celcius, di siang hari.

"Panas dan tingkat kelembapan yang rendah, itu yang menyebabkan terjadinya kekeringan di beberapa wilayah," demikian Affan Nugraha Diharsya.
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar