Pemprov minta desain bangunan tahan gempa, layakdan nyaman

id Maket

dok. Manajer Area Arsitek Komunitas (Arkom) Palu Muhammad Cora (kiri) menjelaskan maket hunian tetap (Huntap) yang dikenalkan kepada penyintas bencana di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (17/8/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj. (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Jangan sampai ada aspek yang sengaja dikurangi atau diabaikan, karena saya tegaskan bukan gempanya yang kita takuti tapi justru bangunannya jangan sampai runtuh dan memakan korban jiwa atau malah mempersulit kita keluar untuk menyelamatkan diri
Palu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah meminta kepada peserta workshop Peta Sumber dan Potensi Gempa yang dihadiri berbagai kalangan agar para arsitektur mendesain bangunan tahan gempa yang kokoh secara konstruksi, nyaman bagi penghuninya dan memenuhi sanitasi serta estetika bangunan. 

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola diwakili Asisten Administrasi, Ekonomi dan Pembangunan Bunga Elim Somba pada workshop  yang berlangsung di Hotel Santika Palu, Senin (19/8) itu, konstruksi tersebut dibutuhkan guna meminimalisir korban jika terjadi gempa.

Elim Somba mengatakan dalam menyiapkan bangunan tahan gempa perlu dipastikan bahwa bangunan tersebut layak secara sanitasi, berestetika dan menggunakan bahan-bahan yang aman, tidak mencemari lingkungan dan berlabel SNI.

"Jangan sampai ada aspek yang sengaja dikurangi atau diabaikan, karena saya tegaskan bukan gempanya yang kita takuti tapi justru bangunannya jangan sampai runtuh dan memakan korban jiwa atau malah mempersulit kita keluar untuk menyelamatkan diri," tegas Elim Somba.

Untuk itu, diharapkan kepada para peserta untuk mengikuti workshop dengan serius untuk membantu mensosialisasikan dan meluruskan ke masyarakat sebab walaupun banyak masyarakat yang memakai media sosial dan internet tapi kemampuannya untuk menyaring informasi masih rendah sehingga sering salah menafsirkan segala sesuatu tentang gempa.

Dia mengatakan aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu sangat tinggi karena kota ini berada di atas sesar aktif Palu koro sehingga gempa getaran kecil maupun besar sangat lazim terjadi sepanjang tahun.

Salah satu upaya untuk meminimalisir fatalitas gempa adalah dengan mempersiapkan arsitektur bangunan tahan gempa yang kokoh secara konstruksi namun nyaman bagi penghuninya.

Sebelumnya panitia pelaksana workshop penerapan peta sumber dan bahaya gempa Indonesia 2017 dan penerapan SNI bidang bahan, struktur dan konstruksi bangunan pada perencanaan struktur gedung Rian Wulan Dasriani ST MSC menyampaikan pentingnya kegiatan tersebut.

Menurutnya workshop yang berlangsung 19-21 Agustus 2019 tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan standar, pedoman dan manual tentang teknologi bangunan beton tahan gempa terkini.

Workshop tersebut meliputi peta bangunan dan bahaya gempa bumi 2017, SNI 1726: 2012, tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung, SNI 17 27 : 2013, beban minimum untuk perencanaan bangunan gedung dan struktur lain serta SNI 2847: 2013 dan persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung.

Peserta workshop terdiri dari perwakilan universitas, pemerintah daerah kota dan provinsi di Sulawesi Tengah, praktisi dan asosiasi yang terkait bidang bangunan gedung tahan gempa sebanyak 100 orang.

Bertindak sebagai narasumber dalam workshop tersebut Ir Lutfi Faisal dari Puslitbang Perkim. Prof. Dr. Ir. Masyur Irsyam dari ITB. Ir Davy Sukamta IP-U dari profesional bidang konstruksi serta Ir Steffie Tumilar M Eny dari HAKI.***
 
Pewarta :
Editor : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar