Pemkot pastikan sumur gas metan aman dari kebakaran sampah di Palu

id gas metan,pembangkit listrik biogas,sumur gas medan,kebakaran sampah di palu

Pemkot pastikan sumur gas metan aman dari kebakaran sampah di Palu

Salah seorang pemulung melintas di depan sumur penampung gas metan untuk energi pembangkit listrik tenaga biogas sebagai salah satu area terlarang menggunakan telepon seluler dan menyalakan api, di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Kamis (22/8/2019). (ANTARA/Moh Ridwan)

Kami pastikan satu sumber gas metan tidak terjangkau api karena memang sumur itu tidak berfungsi
Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah memastikan keberadaan sumur gas metan pembangkit listrik tenaga biogas aman dari kebakaran sampah yang terjadi di kawasan tempat pembuangan akhir di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Matikulore.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu Firman yang dihubungi, Kamis, mengatakan kebakaran sampah di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah tidak membahayakan sumur biogas karena jaraknya cukup jauh dari sumber api.

"Peristiwa itu terjadi pada Senin 19 Agustus 2019, hingga kini api belum bisa dipadamkan karena keterbatasan armada pemadam. Kami upayakan dua hari ke depan sudah bisa teratasi," ujar Firman.

Pembangkit listrik yang diresmikan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola pada tahun 2014 merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota (Pemkot) Palu dan Pemkot Boras, Swedia yang saat itu Wali Kota Palu masih dijabat Rusdy Mastura.

Baca juga : Presiden: pemerintah kembangkan pembangkit listrik berenergi terbarukan

Pakar UGM: PLN bisa bangun pembangkit listrik tersebar

Dia menjelaskan pemicu kebakaran akibat cuaca yang cukup panas beberapa hari terakhir, apalagi letak geografis TPA sampah  berada di bukit kering sehingga sinar matahari lebih leluasa memancar, akibatnya api dengan mudah menjalar ketumpukan sampah.

Menurutnya, kebakaran sampah memang sering terjadi di kawasan itu ketika musim panas, namun tidak seluas rembetan saat ini.

"Baru kali ini kebakaran besar, titik api muncul di mana-mana, di tambah angin bertiup kencang sehingga api lebih muda menjalar. Hal ini membuat petugas kami kewalahan memadamkan api," katanya menambahkan.

Dia memaparkan api lebih leluasa melalap tumpukan sampah bagian selatan karena banyak sampah kering, sedangkan kawasan bagian utara sebelumnya telah diantisipasi guna menjaga sterilisasi sumur gas metan dari ancaman kebakaran ditimbun dengan bongkahan material bangunan yang roboh akibat dampak gempa, lalu dipadatkan menggunakan alat berat.

Di kawasan itu terdapat 15 titik sumur gas metan yang berfungsi untuk menampung energi pembangkit listrik, namun yang berfungsi hanya 11 sumur.

"Kami pastikan satu sumber gas metan tidak terjangkau api karena memang sumur itu tidak berfungsi," ucapnya.

Meski kebakaran masih berlanjut, namun hal itu tidak menganggu aktivitas armada pengangkut sampah yang keluar masuk, bahkan pemerintah setempat juga telah memasang papan peringatan di sejumlah titik agar tidak menyalakan api atau merokok di kawasan tersebut, karena dianggap berpotensi menimbulkan kebakaran.
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar