Lomba panjat kelapa tradisional promosi pariwisata Parigi Moutong

id Panjat kelapa, Parigi moutong

Salah satu peserta sedang berusahan memanjat pohon kelapa dilegiatan lomba panjat kelapa tradisional yang dihelay Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Selasa (27/82019). (Antaranews/Moh Ridwan)

Parigi (ANTARA) - Lomba panjat Kelapa tradisional diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sebagai upaya mempromosikan pariwisata daerah itu. 

Ketua panitia lomba panjat kelapa Revi Tilaar, di Parigi, Selasa mengatakan kegiatan digagas pemerintah setempat sebagai ajang promosi destinasi wisata guna menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara kekabupaten tersebut. 

"Kegiatan ini juga sebagai olahraga rakyat, karena Parigi Moutong salah satu daerah di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi kelapa dalam cukup besar, " ungkap Revi. 

Sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap profesi buruh panjat kelapa, paparnya, maka hal itu didesain dalam bentuk lomba sebagai upaya mengangkat derajat mereka dan pemerintah setempat mengkalim lomba tersebut baru pertama dilaksanakan di tanah air. 

Menurutnya, olahraga tradisional itu mempertontonkan ketangkasan setiap peserta saat memanjat pohon kelapa dibantu alat pengaman karena tidak semua orang mampu melakoni hal tersebut. 

Parigi Moutong memiliki sejumlah objek wisata menarik untuk di kunjungi mulai dari wisata alam hingga kuliner, termasuk wisata bahari.

Dikemukakannya, kegiatan itu baru kali pertama dilaksanakan sebagai tontonan baru untuk khalayak luas yang tidak lain menarik minat publik datang berkunjung yang melibatkan Federasi Panjat Tebing Indoneaia (FPTI) Parigi Moutong sebagai tim teknis pengatur lomba. 

"Peserta kami masukan di asuransi tenagakerja, jika sewaktu-katu terjadi kecelakaan saat perlombaan, mereka mendapat jaminan klaim, " katanya menambahkan. 

Perlombaan itu memperebutkan total bonus Rp20 juta diikuti sekitar 34 tim dengan jumlah peserta 139 orang dan setiap tim maksimal lima orang, dimana masing-masing peserta per tim harus mampu meraih catatan waktu cepat hingga TOP atau titik akhir pemanjatan yang sudah ditentukan. 

Bagi tim dengan catatan waktu rendah dinyatakan tidak lolos kebabak berikutnya, olehnya peserta harus cepat melakukan pemajatan. 

"Dari 34 tim berkompetisi, satu tim berasal dari kabupaten Sigi. Kegatan ini berlangsung tiga hari mulai 27 hingga 29 Agustus 2019," ucap Revi. 

Dia menuturkan, kedepan kegiatan itu dilaksanakan lebih meriah dan melibatkan kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Tengah sebagai kejuaraan terbuka. 
Pewarta :
Editor : Muhammad Hajiji
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar