Gas metan di pembuangan akhir berpotensi untuk energi listrik Palu

id gas metan, TPA,palu, sampah

Salah seorang pemulung melintas di depan sumur penampung gas metan untuk energi pembangkit listrik tenaga biogas sebagai salah satu area terlarang menggunakan telepon seluler dan menyalakan api, di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Kamis (22/8/2019). (ANTARA/Moh Ridwan)

Palu (ANTARA) - Keberadaan gas metan di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA sangat berpotensi untuk solusi menambah suplai energi listrik di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu Firman, di Palu, Rabu mengatakan tumpukan sampah di TPA Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore menghasilkan energi terbarukan yang cukup besar namun belum terkelola dengan baik.

"Pascabencana, kami masih fokus menangani kebersihan kota. bagaimana sampah-sampah di dalam kota bisa terangkut ke TPA sehingga pemerintah belum terkonsentarsi mengurus pengelolaan gas metan," ujar Firman.

Dia menjelaskan, pada pemerintahan sebelumnya Pemkot Palu menjalin kerja sama dengan Pemkot Boras, Swedia mengolah energi yang bersumber dari sampah di TPA Kawatuna untuk dijadikan sebagai sumber listrik. Dalam kerja sama itu, Pemkot

Boras mendatangkan dua mesin pembangkit tenaga biogas dan sempat beroperasi, namun saat ini tidak lagi sebab mesin pembangkit tersebut kondisinya rusak.

Diuraikannya, di zona reigion satu terdapat 11 sumur gas metan dengan luas hamparan sekitar 1,1 hektare yang saat itu terkelolah mampu menghasilkan energi listrik sebesar 54.000 kilowatt dari sebagian kecil sumur gas beroperasi.

Dalam nota kesepahaman, Pemkot Palu tidak mengalokasikan energi listrik untuk dikerjasamakan dengan pihak berkompeten.

"Energi yang terdistribusi saat itu hanya sekitar 5.000 kilowat dan hanya digunakan untuk menerangi rumah-rumah pemuling di sekitar TPA," katanya menambahkan.

Menurut Firman, jika pengelolaan energi tersebut dilakukan secara optimal melalui kerja sama PLN sebagai pihak ketiga sekaligus mitra pemerintah bisa menambah suplay listrik di Palu meskipun daya dihasilkan tidak sebesar pembangkit yang lain, paling tidak memberikan konstribusi energi.

Saat ini zona region dua dengan luas hamparan sekitar 1,2 hektare telah diamnfaatkan sebagai tempat sampah. Hamparan itu dinilai sudah potensial memproduksi gas metan.

"Jika dua zona itu terkelola dengan baik, di perkirakan mampu menghasilkan energi listrik sekitar dua megawatt. Sejauh ini belum ada komunikasi dibangun dengan pihak PLN merencanakan pengelolaan gas metan," ucap dia.

Dikemukakannya, potensi lahan TPA Kota Palu di kawasan tersebut mencapai sekitar 20 hektare lebih, namun yang baru memiliki sertifikat atau alas hak seluas lima hektare dan lahan yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 2,3 hektare.


Baca juga: Pemkot pastikan sumur gas metan aman dari kebakaran sampah di Palu
Baca juga: Legislator : minta KLHK motivasi daerah di Sulteng rubah tata kelola sampah
Baca juga: Pemkot perlu ubah tata kelola sampah hasilkan listrik

 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar