Opini - Sekola Mombine dan kegiatan kemanusiaan pascabencana Sulteng (1)

id Sikolah Mombine, setahun bencana pasigala,setahun bencana sulteng,sulteng bangkit

Opini - Sekola Mombine dan kegiatan kemanusiaan pascabencana Sulteng (1)

Ilustrasi - salah satu bentuk kegiatan Sikola Mombine (Antara/HO-Sikola Mombine)

Dalam membangun jejaring, Yayasan Sikola Mombine membentuk forum anak untuk kemanusiaan 'Relawan Sulteng Kuat',
Palu (ANTARA) - Sikola Mombine adalah sebuah institusi yang mendorong gerakan kepemimpinan perempuan akar rumput yang penamaannya berasal dari Bahasa Kaili, yakni Sikola artinya Sekolah dan Mombine yang artinya adalah Perempuan. Semangat gerakannya berawal dari tahun 2006, ketika Sikola Mombine sebelumnya merupakan sebuah laboratorium pendidikan kepemimpinan politik perempuan dibawah binaan organisasi KPPA (Komunitas Peduli Perempuan dan Anak). 

Seiring dengan perkembangan kesadaran internal lembaga KPPA Sulawesi Tengah, didorong kemandirian dan keberlanjutan Sikola Mombine melalui sebuah pertemuan besar Sikola Mombine yang melahirkan sebuah organisasi baru berbasis anggota dan diorganisir oleh institut. Pada tahun 2018, Sikola Mombine berganti dari Institut menjadi Yayasan.

Visi Yayasan Sikola Mombine adalah 'Perempuan menjadi aktor perubahan sosial politik untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia yang berdaulat, adil, mandiri dan demokratis.' Sementara misinya adalah 'Mendidik perempuan sebagai aktor perubahan sosial politik, melahirkan perempuan pemimpin yang berkarakter kebangsaan (berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya) dan Sikola Mombine menjadi pusat pengetahuan dan Pendidikan kepemimpinan perempuan.'

Kondisi masyarakat penyintas pascabencana alam di Palu, Sigi dan Donggala pada tanggal 28 September 2018, sejak emergency response sampai pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi menuai banyak polemik baru, utamanya pemenuhan hak dasar penyintas dan masih terkesan terabaikan. Ditambah lagi situasi perempuan dan anak sebagai kelompok rentan yang membutuhkan intervensi khusus oleh Pemerintah masih sangat lemah bahkan ada proses pengabaian sehingga melahirkan berbagai persoalan baru. Salah satunya adalah kemiskinan berwajah perempuan dan meningkatnya jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak baik di lokasi pengungsian maupun di huntara (hunian sementara). 

Secara ekonomi, masyarakat yang tinggal diwilayah pesisir, bergantung penuh dengan sumber daya laut yang sampai saat ini belum mendapat kejelasan mengenai pola pemulihan ekonomi di wilayah pesisir Teluk Palu. Selain itu, persoalan hunian tetap (HUNTAP) yang masih kontroversi antara pendekatan pemerintah yang tidak partisipatif dengan keinginan masyarakat yang tidak ingin jauh dari sumber penghidupan mereka.

Pada tahap emergency response, Yayasan Sikola Mombine mendapatkan dukungan dana dari YAPPIKA-Action Aid sebesar 1,13 Miliar yang dikelolah selama kurang lebih 6 bulan terhitung dari Bulan November 2018 – April 2019. Di fase tersebut, Yayasan Sikola Mombine melakukan intervensi pada sektor food, wash dan shelter. 

Selain bekerja sama dengan YAPPIKA-Action Aid, Yayasan Sikola Mombine sejak 2017 telah menjalin kerjasama dengan The Asia Foundation sehingga pascabencana, Sikola Mombine tetap mendapatkan dukungan dalam hal advokasi kebijakan, pengorganisasian balai belajar kampung, pembentukan relawan siaga bencana dan keberlanjutan advokasi hutan desa di Malitu, Kabupaten Poso. 

Bersama The Asia Foundation, Yayasan Sikola Mombine pada tahun 2018 telah mendorong lahirnya Peraturan Bupati Donggala Nomor 3 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Desa Berkelanjutan di Kabupaten Donggala. 

Terdapat 5 indikator Desa Berkelanjutan di dalam aturan tersebut, yakni Desa Sehat, Desa Hijau, Desa Berdaya Ekonomi, Desa Cerdas dan Desa Responsif Gender. Pascabencana, Peraturan Bupati tersebut direvisi sehingga memasukkan isu kebencanaan didalam masing-masing indikator Desa Berkelanjutan tersebut. 

Yayasan Sikola Mombine dalam melakukan pengorganisasian di komunitas dan advokasi kebijakan, menggunakan strategi pendekatan dengan berbasis pada pelibatan penuh perempuan sebagai aktor utama. Hal ini didasarkan pada pengalaman Yayasan Sikola Mombine sejak masa tanggap darurat bencana yang telah melakukan beberapa intervensi layanan kemanusiaan seperti bantuan logistik darurat, penerangan, menyediakan makanan bergizi bagi kelompok rentan di lima titik pengungsian wilayah Kota Palu, mengorganisir donasi dan menguatkan kelompok perempuan penyintas. 

Pada tahap transisi tanggap darurat, ada beberapa aktivitas yang telah dilakukan seperti program pembagian paket nutrisi, hygine package, pembangunan rumah perlindungan perempuan dan anak 'Samporoa Mombine', penguatan psikososial, penguatan kapasitas perempuan penyintas dan kepemimpinan perempuan, penguatan dan pembentukan Balai Belajar Perempuan (ada 21 Balai Belajar yang telah terbentuk, 25 Balai Belajar dalam proses pembentukan), pendampingan hukum bagi korban dan hak-hak keperdataan korban serta penguatan livelihood. 

Dalam membangun jejaring, Yayasan Sikola Mombine membentuk forum anak untuk kemanusiaan 'Relawan Sulteng Kuat', aktif dalam jejaring NGO lokal, nasional dan internasional serta kerjasama dengan Lembaga pemerintah daerah. (bersambung)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar