KPH Sivia Patuju bentuk KTH-Gapoktan untuk kelola HHBK

id KPH Sivia Patuju,HHBK,Hutan,Pemprov Sulteng

KPH Sivia Patuju bentuk KTH-Gapoktan untuk kelola HHBK

Kepala KPH Sivia Patuju, Firmansyah memperlihatkan dua bungkus kopi robusta, sebagai salah satu potensi HHBK di dalam kawasan hutan yang di kelola lewat pelibatan masyarakat/KTH dan Gapoktan. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Pendekatan ini sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat pengelolaan hutan
Palu (ANTARA) - Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sivia Patuju di Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah melibatkan masyarakat lewat pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk mengelola hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam rangka menjaga kelestarian hutan dan sebagai bentuk upaya pengendalian terjadi perubahan fungsi hutan dan lahan.

"Pendekatan ini sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat pengelolaan hutan," kata Kepala KPH Sivia Patuju, Firmansyah di Palu, Minggu.

Firmansyah menjelaskan dalam program pemberdayaan petani dengan skema pengembangan HHBK, KPH mengedepankan pendekatan agroforestri yakni kominasi tanaman.

Ia menyebut, KPH Sivia Patuju mengusulkan 12.000 hektare lahan dan hutan untuk dikelola oleh masyarakat.

Namun, dari usulan itu yang telah mendapat izin dari pemerintah untuk dikelola masyarakat seluas 8.900 hektare.

Lahan dan hutan seluas 8.900 hektare itu, kata dia dikelola oleh kelompok tani hutan dan gabungan kelompok tani, yang ada di kabupaten tersebut berjumlah 16 kelompok.

Dalam upaya pengembangan hasil hutan bukan kayu, sebut dia ada beberapa kendala salah satunya yakni jalan yang belum terbuka menuju lokasi tempat pertanian para petani/masyarakat.

"Masyarakat secara turun temurun telah berkegiatan didalam lokasi hutan. Ini tentu harus diberdayakan, salah satu yang perlu diperhatikan yakni akses jalan," ujarnya.

Luas lahan dan hutan yang berada di bawah KPH Sivia Patuju seluas 400.000 hektare.

Ia mengaku salah satu potensi HHBK yang saat ini telah dipasarkan yaitu kopi varian robusta, yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Bukit Kopi.

Dari luas total lahan hutan tersebut, kata dia juga menyimpan berbagai potensi yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi yakni sektor wisata alam berupaya air terjun dan hutan.

Baca juga: KPH Sivia Patuju kembangkan kopi robusta untuk cegah deforestasi
Baca juga: KPH Banawa Lalundu kembangkan potensi hasil hutan dan objek wisata
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar