Pemkot Palu: Kemampuan daya beli masyarakat sangat pengaruhi pendapatan UMKM

id UMKM,daya beli, palu, pascabencana

Pemkot Palu: Kemampuan daya beli masyarakat sangat pengaruhi pendapatan UMKM

Seorang konsumen sedang pemperhatikan produk bawang goreng di salah satu gerai oleh-oleh khas Palu, Kamis (17/10/2019). (ANTARA/Moh Ridwan)

Usaha jasa perlu secepatnya dipulihkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sehingga berdapak kepada pendapatan sektor UMKM. Nah, mata rantai ini harus berkesinambungan
Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah mengatakan kemampuan daya beli masyarakat sangat mempengaruhi pasang surutnya pendapatan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM di daerah itu secara lokal.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Palu Setyo Susanto, di Palu, Senin mengatakan UMKM sangat tergantung terhadap tingkat daya beli masyarakat, apa lagi saat ini Ibu Kota Sulawesi Tengah sedang dalam situasi bencana, karena itu perlu langkah-langkan konkret guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

"Usaha jasa perlu secepatnya dipulihkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sehingga berdapak kepada pendapatan sektor UMKM. Nah, mata rantai ini harus berkesinambungan," ujar Setyo.

Menurutnya, pelaku usaha mikro perlu mengembangkan produk serta meningkatkan kemampuan daya saing dan kompetitif melirik pasar regional agar lebih memberikan perubahan untuk kemajuan ekonomi mereka.

Pemkot Palu mendorong pelaku usaha mengembangkan produk berbasis kearifan lokal yang bahan bakunya tersedia di daerah, untuk menarik minat komsumen luar daerah berbelanja produk tersebut.

Salah satu contoh, katanya, komoditas bawang goreng Palu yang saat ini peminatnya cukup banyak baik ditingkat regional maupun nasional, karena kualitasnya sudah terjamin, termasuk kelor yang bisa menenjadi makanan olahan.

"Nah, komoditas-komoditas potensial seperti ini kami inginkan untuk dikembangkan. Bawang goreng perlu ditingkatkan, bukan hanya untuk pelengkap dan penyedap makanan tetapi konteksnya dapat dijadikan makanan ringan seperti keripik," jelas Setyo.

Dia mengaku, di satu sisi saat ini usaha mikro kecil masih membutuhkan modal besar pascbencana gempa, tsunami dan likuefaksi melanda Kota Palu dan sekitarnya guna meperbaiki perekonomian mereka agar bisa pulih.

"Situasi saat ini tentu UKM masih kekurangan modal. Menyiasati kekurangan itu pelaku usaha mikro lebih cenderung memproduksi produk yang cepat laku terjual," kata dia menambahkan.

Meski begitu, UKM masih menjadi salah satu penyangga pendapatan daerah di situasi bencana selain sektor pajak dan saat ini pedagan kreatof lapangan semakin menjamur di Palu khsusunya kuliner.

Hal ini sejalan dengan visi-misi Wali Kota Palu yang mengedepankan dan memprioritaskan sektor ekonomi berbasis mikro untuk mendukung langkah pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar