Kemenag tinjau kelayakan IAIN Palu bertransformasi menjadi UIN

id IAIN Palu,UIN Palu,perguruan tinggi islam

Kemenag tinjau kelayakan IAIN Palu bertransformasi menjadi UIN

Ketua Tim Penilaian Alih Status Kementerian Agama RI, Muhammad Adib Abdushomad didampingi Rektor IAIN Palu Prof Dr H sagaf S Pettalongi MPd meninjau pembangunan gedung kuliah dan ketersediaan lahan untuk pembangunan kampus di Desa Pombewe Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Kamis. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Palu, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Tim penilai alih status dari Kementerian Agama pada Kamis meninjau kesiapan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu.

"Penilaian hari ini merupakan tindak lanjut dari penilaian dokumen alih status IAIN Palu menjadi UIN yang telah berlangsung pada bulan September 2019," kata Ketua Tim Penilaian Alih Status Kementerian Agama, Muhammad Adib Abdushomad, di Palu.

IAIN Palu menjalani penilaian lanjutan karena dalam penilaian dokumen alih status pada September mendapat nilai 306.

Baca juga: Kemenag RI dukung penuh transformasi IAIN Palu jadi UIN

Adib, sapaan akrab Muhammad Adib Abdushomad, mengatakan bahwa IAIN Palu merupakan satu dari 11 perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) yang menjalani penilaian dokumen alih status pada September.

Dari 11 perguruan tinggi keagamaan Islam negeri dengan status IAIN yang menjalani penilaian, hanya sembilan IAIN yang dokumen alih statusnya dipandang layak untuk ditindaklanjuti oleh Kementerian Agama, termasuk IAIN Palu.

"IAIN Palu nilainya di atas 300, karena itu berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun 2014 maka dilakukan visitasi. Nah, visitasi atau penilaian lapangan hari ini untuk mengecek langsung bagaimana dan seperti apa kondisi lapangan," kata Adib.

Adib, yang menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Pengembangan dan Kerjasama Kementerian Agama, mengatakan, berdasarkan penilaian tidak ada perbedaan signifikan antara data-data yang disajikan dalam proposal dengan keadaan di lapangan.

Civitas akademika IAIN Palu pun, menurut dia, mendukung alih status IAIN Palu menjadi UIN.

"Sudah sangat mendukung, bahkan saya mengajak kepada civitas akademika supaya perubahan menjadi UIN harus menjadi milik bersama, kebanggaan bersama seluruh civitas akademika IAIN Palu," katanya.

IAIN Palu berpeluang besar beralih status menjadi UIN tahun 2020.

"Saat ini ada 17 UIN, kita ingin tambah. Namun penambahan ini tidak hanya kuantitas tetapi harus juga kualitas," kata Adib.

Adib menegaskan bahwa satu hal yang harus dijalankan IAIN Palu ketika beralih status menjadi UIN yaitu pengintegrasian keilmuan keagamaan dengan sains.

Baca juga: Alumni IAIN Palu pembawa solusi di masyarakat
 
Ketua Tim Penilaian Alih Status Kementerian Agama RI, Muhammad Adib Abdushomad, meninjau sarana prasarana dan kegiatan belajar mengajar di IAIN Palu, Kamis. (ANTARA/Muhammad Hajiji)


Selain memeriksa kelengkapan dokumen dan meninjau kampus satu IAIN Palu di Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, tim penilai dari Kementerian Agama juga meninjau ketersediaan lahan pembangunan kampus di Desa Pombewe Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.

Tim Penilai, menurut Adib, akan memperbaiki kembali dokumen-dokumen yang telah diajukan oleh IAIN Palu dan membuat surat pengantar alih status ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara yang ditandatangani oleh Menteri Agama.

Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd mengemukakan naskah akademik untuk alih status telah disiapkan dan telah dipresentasikan kepada tim penilai.

Terkait integrasi pendidikan keagamaan dengan sains, ia menjelaskan, IAIN Palu sudah merancang konsep menara keilmuan yang selanjutnya akan disampaikan ke Kementerian Agama.

Baca juga: IAIN Palu biayai perkuliahan warga kurang mampu

 
Ketua Tim Penilaian Alih Status Kementerian Agama RI, Muhammad Adib Abdushomad memeriksa ketersediaan berkas dan dokumen lainnya terkait alih status IAIN Palu menjadi UIN Datokarama Palu dalam assessment lapangan, berlangsung di Lantai II Gedung Pascasarjana IAIN Palu, Kamis. (ANTARA/Muhammad Hajiji)
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar