Wilayah Sigi paling sering dilanda banjir dan longsor

id bencana sigi sulteng,banjir gempa sigi

Wilayah Sigi paling sering dilanda banjir dan longsor

Warga berada di sekitar tumpukkan material yang terbawa banjir bandang dan menerjang pemukiman warga di Dusun Pangana, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (13/12/2019). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc.

Terdapat sejumlah anak sungai yang mengalir dan bermuara di Sungai Palu. Meski tidak hujan, Sungai Palu bisa banjir dan airnya meluap hingga ke permukiman penduduk yang ada di beberapa wilayah.
Palu (ANTARA) - Wilayah Sigi, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang selama 2019 paling sering dilanda bencana alam berupa banjir dan tanah longsor dengan kerugian cukup besar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng, Bartholomeus Tandigala di Palu, Selasa, mengatakan berdasarkan data yang ada pada instansi itu, Kabupaten Sigi yang pada 2018 juga diterjang gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,4 dan menelan korban jiwa mencapai ribuan orang. 

Selama 2019, bencana yang paling menonjol dari seluruh kabupaten/kota adalah banjir bandang dan tanah longsor.

Banjir bandang terbesar terjadi di Sigi menjelang akhir tahun menelan dua korban jiwa dan ratusan rumah warga tertimbun material lumpur dan batu-batuan serta pepohonan yang dibawah banjir bandang. Selain Kabupaten Sigi, juga Donggala dan Kabupaten Buol.

Baca juga: Sigi banyak titik rawan longsor perlu diwaspadai masyarakat

Tetapi secara keseluruhan semua daerah di Provinsi Sulteng, termasuk Kota Palu termasuk wilayah rawan bencana alam banjir.

Kota Palu, kata Bartholomeus, terdapat sungai besar yakni Sungai Palu yang mengalir ke dalam kota dan sering mendatangkan banjir kiriman.

Terdapat sejumlah anak sungai yang mengalir dan bermuara di Sungai Palu. Meski tidak hujan, Sungai Palu bisa banjir dan airnya meluap hingga ke permukiman penduduk yang ada di beberapa wilayah.

Mengingat hampir seluruh kabupaten/kota di Sulteng rawan banjir, kata dia, maka mitigasi bencana perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat.

Masyarakat perlu mengetahui mitigasi bencana agar mereka tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana alam. Termasuk mengungsi kemana jika ada banjir dan gempa atau tsunami.

Menurut dia, pelajaran mitigasi bencana juga sangat perlu diajarkan di sekolah-sekolah. "Mengapa perlu?. Karena daerah kita rawan bencana alam," kata Bartholomeus.****
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar