Petani kelapa harap Pemprov Sulteng stabilkan kembali harga kopra

id DPRD Sulteng,Parigi Moutong,kelapa,kopra

Petani kelapa harap Pemprov Sulteng stabilkan kembali harga kopra

Petani mencungkil kelapa untuk dijadikan kopra di Desa Pandere, Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (16/2/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama.

Kalau bisa pemerintah mengundang kembali PT Bimoli untuk mengoperasikan kembali pabriknya di Parigi Moutong agar harga kelapa kembali stabil dan petani kembali sejahtera
Palu (ANTARA) - Petani kelapa di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menstabilkan kembali harga kopra di daerah tersebut, untuk percepat peningkatan ekonomi.

"Kalau bisa pemerintah mengundang kembali PT Bimoli untuk mengoperasikan kembali pabriknya di Parigi Moutong agar harga kelapa kembali stabil dan petani kembali sejahtera," ucap salah satu pelaku usaha di Parigi Moutong sekaligus pembeli hasil bumi, Rusno di Palu, Selasa.

Saat bertemu dengan  anggota DPRD Sulteng Ibrahim A Hafid di ruang kerjanya, Rusno juga menyampaikan kondisi menurunnya harga kopra yang membuat petani kurang semangat untuk merawat dan membudidayakan kembali kelapa,

Terkait keluhan itu Legislator Sulteng Ibrahim A Hafid yang juga Ketua Fraksi NasDem di DPRD Sulawesi Tengah dari daerah pemilihan Parigi Moutong membenarkan bahwa harga kopra anjlok di kabupaten tersebut.

"Memang ini menjadi salah satu masalah yang harus disikapi, diseriusi diselesaikan oleh pemerintah, dalam hal membangun kesejahteraan masyarakat termasuk petani kelapa," ujarnya.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah harus menyediakan pasar atau industri kopra di Parigi Moutong, sebagai solusi untuk menormalkan kembali atau menjaga kestabilan harga komoditi tersebut.

"Adanya industri itu sangat membantu petani, karena petani menjual langsung ke pabrik atau industri yang ada. Tidak lagi menjual keluar dari. Ini sekaligus bentuk menjaga harga kelapa kopra," katanya.

Ibrahim memaparkan dalam satu bulan produksi kelapa di Parigi Moutong mencapai sekitar 1.000 - 1.500 ton. Sementara harga kopra Rp6.000/kg dengan kadar air nol persen. Jika mengandung kadar air, maka nilai jual kopra lebih rendah.

Oleh karena itu, lanjutnya, petani kelapa dan pedagang kopra di Parigi Moutong memilih menjual kopra ke Provinsi Gorontalo dan Kota Bitung dengan harga Rp7.000/kg dengan kadar air nol persen.

Sementara biaya transportasi ke Gorontalo dan Bitung yang harus dikeluarkan oleh petani dan pedagang kurang lebih sekitar Rp2,2 juta/10 ton kopra, dengan jarak tempuh kurang lebih 300 kilo meter.

Di satu sisi, petani kelapa dihadapkan dengan tingginya biaya produksi dalam pembuatan kopra serta pajak hasil bumi, yang ditaksir mencapai Rp5.000/pohon atau per 25 buah kelapa.

Dengan kondisi ini, kata dia tidak heran bila petani lebih semangat untuk menjual batang pohon kelapa daripada memelihara dan merawat buahnya. Dikarenakan, batang pohon kelapa bisa menghasilkan beberapa kayu yang memiliki nilai jual tinggi, ketimbang buah kelapa.

"Iya, batang pohon kelapa itu jauh lebih bernilai ketimbang buahnya. Ini harus menjadi perhatian, oleh pemerintah, karena Sulteng salah satu sektor andalannya ialah kelapa. Namun beberapa tahun terakhir ini surut," ujarnya.

Ia mengungkapkan, di Parigi Moutong petani kelapa dalam membuat kopra masih secara manual yaitu menjemurnya di bawah terik matahari atau dengan cara pengasapan.

Salah satu cara untuk menaikkan harga jual kopra yaitu dengan cara memasukkan kelapa di oven perkelompok masyarakat. Hal itu juga lebih meningkatkan kualitas kopra.


 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar