Realisasi luas tanam padi di Palu turun drastis akibat gempa dan kemarau

id padi, realisasi tanam padi,petani palu,pemkot palu

Realisasi luas tanam padi di Palu turun drastis akibat gempa dan kemarau

Seorang petani membajak bekas lahan padi untuk ditanami jagung di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (28/2/2019). Sebagian petani di daerah tersebut berhenti menanam padi dan beralih menanam jagung akibat kekurangan air setelah jaringan irigasi pertanian di kawasan tersebut rusak berat akibat gempa dan likuifaksi yang hingga kini belum diperbaiki. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

Akibat kemarau banyak petani beralih ke tanaman hortikultura karena tidak memungkinkan menanam padi, sebab ketersediaan air sangat kurang belum lagi irigasi banyak rusak. Ini yang memicu menurunya realisasi luas tanam padi
Palu (ANTARA) - Realisasi luas tanam komoditas padi sawah di Kota Palu, Sulawesi Tengah kurang dari target yakni 300 hektare sepanjang 2019 akibat gempa dan kemarau ekstrim.

"Realisasi yang tercapai dari target luas tanam 300 hektare lebih hanya sekitar 114,8 hektare terhitung Januari-Desember tahun lalu. Ada sekitar 200 hektare yang tidak tercapai," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kota Palu Nur Laila, di Palu, Kamis.

Selain karena kemarau yang menyebabkan sulitnya suplai air ke lahan pertanian, juga sejumlah titik pertanian di Kota Palu, seperti di Kelurahan Petobo rusak akibat gempa.

Gempa disusul tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018 mengakibatkan 27,5 hektare areal persawahan produktif di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan rusak berat.

"Areal persawahan di Petobo hancur akibat dampak gempa dan likuefaksi meskipun masih ada sebagian lahan dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura," kata Laila.

Baca juga: Masa tanam padi Parigi Moutong tidak berubah, meski musim kemarau

Meski masih dalam situasi bencana, namun Kota Palu masih tetap menjalankan program upaya khusus padi, jagung dan kedelai (Upsus Pajala) dalam rangka mendukung peningkatan ketahanan pangan nasional.

"Akibat kemarau banyak petani beralih ke tanaman hortikultura karena tidak memungkinkan menanam padi, sebab ketersediaan air sangat kurang belum lagi irigasi banyak rusak. Ini yang memicu menurunya realisasi luas tanam padi," kata Laila.

Dia mengatakan langkah yang diambil petani beralih ke tanaman lain merupakan langkah wajar, sebab petani bukan semata-mata membantu pemerintah menjaga ketahanan pangan daerah, tetapi mereka juga memiliki kepentingan meningkatkan taraf perekonomiannya.

Baca juga: Meski cuaca ekstrim, Kota Palu bisa tanam jagung 604 hektare

Dia mengatakan pada subsektor hortikultura, bawang masih menjadi komoditas unggulan Kota Palu, termasuk anggur pada sub sektor perkebunan. 

"Menurut petani nilai tukar tanaman hortikultura lebih tinggi di situasi saat ini dibanding tanaman pangan. Tanaman hortikultura yang dikembangkan seperti tomat, cabai, bawang dan komoditas lainnya," katanya.***
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar