Bea Cukai optimistis sertifikat digital akan dongkrak perdagangan RI-Korsel

id Bwa cukai, ekspor impor, sertifikat online, perjanjian ekspor impor korea selatan

Bea Cukai optimistis sertifikat digital akan dongkrak perdagangan RI-Korsel

Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi. ANTARA/Dewa Wiguna.

Sebelumnya secara manual di masing-masing administrasi sekarang sudah tersedia secara online dan real time, bahkan sertifikat itu sudah bisa dilihat sebelum barang tiba
Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan optimistis digitalisasi sertifikat untuk kebutuhan ekspor impor akan mendongkrak perdagangan Indonesia dan Korea Selatan.

"Sebelumnya secara manual di masing-masing administrasi sekarang sudah tersedia secara online dan real time, bahkan sertifikat itu sudah bisa dilihat sebelum barang tiba," kata Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin.

Digitalisasi sertifikat (Certificate of origin/COO) itu sudah ditandatangani Bea Cukai kedua negara di Seoul, Korea Selatan pada 6 Februari 2020.

Bea Cukai mencatat saat ini devisa ekspor (FOB) Indonesia mencapai 7,3 miliar dolar AS dan devisa impor (CIF) Indonesia mencapai 9,2 miliar dolar AS.

Selain itu, perjanjian juga akan mempercepat pelayanan clearence kepada perusahaan yang memiliki reputasi bahkan sebelum barang tiba.

"Anytime dia mau direkonsiliasi bisa langsung dilakukan dan dengan demikian, tidak perlu lagi pengusaha datang ke pelabuhan menyerahkan hardcopy," katanya.

Menurut dia, dengan digitalisasi juga akan mencegah sertifikat palsu apabila masih dilakukan dengan melampirkan hardcopy.

"Sebenarnya setiap orang berpotensi memalsukan COO selama masih hardcopy, dengan e-COO ini praktis akan hilang, karena sudah tidak mungkin," imbuh Heru.

Selain menyepakati COO secara elektronik, Bea Cukai RI dan Korsel juga menandatangani Authorized Economic Operator Mutual Recognition Arrangement (AEO MRA).

Dengan perjanjian itu, lanjut dia, kedua negara berkomitmen dan mengikat untuk memberikan layanan super cepat untuk clearance terhadap perusahaan yang berstatus AEO, yakni perusahaan bereputasi.

Sejak diluncurkan tahun 2015, AEO Indonesia telah berkembang dari awalnya hanya lima perusahaan yang memiliki sertifikat, hingga saat ini mencapai 136 perusahaan AEO, dan diharapkan akan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Selain dengan negeri ginseng itu, Heru menyebut model tersebut juga akan diterapkan dengan China dan Singapura melalui skema ASEAN.

 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar