Penyintas gempa Lombok harapkan percepatan pembangunan rumah

id Penyintas gempa, gempa Lombok, HUT RI

Ilustrasi - Sejumlah korban gempa berada di komplek hunian sementara di Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Rabu (10/7/2019). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wsj.

Tanjung (ANTARA) - Sejumlah penyintas gempa Lombok berharap pada peringatan HUT Ke-74 RI, pemerintah untuk mempercepat pembangunan bantuan rumah bagi mereka.

"Kami sangat berharap pemerintah mempercepat bantuan yang diberikan pada kami. Sudah setahun gempa, tapi kami tinggal di hunian sementara," ujar seorang penyintas gempa, Khaerani, di Desa Sorong Jukung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.

Ia mengaku sama sekali belum mendapatkan bantuan pembangunan rumah. Padahal, rumahnya sudah rata dengan tanah, sedangkan korban lainnya sudah mendapatkan bantuan rumah.

Saat ini, ia dan ketiga anaknya harus hidup di hunian sementara ukuran dua kali dua meter. Kondisi hunian tersebut juga memprihatinkan, yakni mengalami kebocoran, karena atapnya dari terpal.

"Ini kalau hujan, air masuk. Terpal tidak ada lagi," kata dia.

Selain belum mendapatkan bantuan, banyak masyarakat yang juga masih mengalami trauma akibat bencana alam itu sehingga lebih memilih tinggal di huntara.

Seorang warga lainnya, Hamdan, mengaku sudah mendapatkan bantuan akan tetapi masalahnya masih menunggu giliran untuk tukang.

"Masih ada beberapa rumah lagi, baru rumah saya," kata dia.

Saat ini, Hamdan dan keluarga masih tinggal di huntara. Sejumlah bantuan baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya sudah tidak ada lagi.

Hamdan berharap, ke depan ada program pemberdayaan kepada masyarakat sehingga para korban bencana alam itu bisa bangkit kembali pascabencana.

"Sudah satu tahun berlalu, tapi kehidupan masyarakat maupun perekonomian belum stabil. Kami harap pemerintah memperhatikan kami lagi," kata dia.

Baca juga: Sejumlah warga korban gempa Lombok masih tinggal di huntara
Baca juga: Aktivis NTB bangun rumah tahan gempa di Lombok Utara

 

Pewarta : Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar