Kepala SMP di Kediri dapat penghargaan dari BPIP

id Kepala SMP Pawyatan Daha I Kediri Satriyani Widyawati Rahayu,penghargaan bpip pancasila,kurikulum berbasis Pancasila,kota kediri ,pemkot kediri

Kepala SMP Pawyatan Daha I Kediri Satriyani Widyawati Rahayu di Kediri, Jawa Timur, Selasa (20/8/2019). Ia mendapatkan penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terkait kurikulum berbasis Pancasila yang diterapkan di sekolah. Foto Antara Jatim/ Asmaul Chusna

Kediri (ANTARA) - Seorang Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kediri, Jawa Timur, mendapatkan penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terkait dengan programnya yang dinilai berhasil membuat kurikulum berbasis Pancasila yang diterapkan di sekolah.

"Kami terapkan, integrasi, aktualisasi nilai Pancasila di sekolah, tujuannya untuk menjadikan karakter siswa, penguatan pendidikan karakter ke siswa," kata Kepala SMP Pawyatan Daha I Kediri Satriyani Widyawati Rahayu di Kediri, Selasa.

Ia mengatakan, sekolah memang berupaya untuk selalu mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila pada anak-anak di semua bidang, baik mata pelajaran, aktivitas sehari-hari, hingga kegiatan ekstra kurikuler. Dengan itu, anak-anak menjadi paham betul nilai-nilai Pancasila dan bukan hanya sekedar tahu.

"Tujuannya tahu persis Pancasila sebagai dasar negara, sehingga anak-anak akan tertanam betul dan Pancasila menjadi pedoman hidup bangsa. Untuk itu, yang diterapkan ke anak, mereka tidak hanya sekedar tahu bahwa Garuda Pancasila yang tertempel di dinding, tapi bahwa itu mengandung falsafah hidup, itu semua mengandung makna," ujar dia.

Ia mengaku prihatin jika anak-anak tidak paham tentang falsafah bangsa. Bahkan, ada anak sekolah dasar (SD) maupun SMP yang ternyata tidak hafal teks Pancasila. Untuk itu, di sekolahnya selalu diajarkan, sehingga anak-anak terbentuk karakter menjadi lebih baik.

Ia menambahkan, setiap hari anak-anak bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, membaca Pancasila, dan juga ikrar P4GN. Dengan dilatih itu, ketika mereka menghadapi masalah misalnya dengan teman mengerti bahwa mereka bertentangan dengan sila di Pancasila dan berusaha menyelesaikannya.

"Di sini ada Satgas Pancasila, literasi, dan dalam upaya itu (menanamkan nilai Pancasila) setiap pagi menyanyikan lagu Indonesia Raya, membaca Pancasila, dan juga ikrar P4GN. Semua kami terapkan memasukkan Pancasila pada semua lini bukan hanya ke anak, tapi juga guru, karyawan bagian TU," kata dia.

Ia mengakui untuk menerapkan hal itu membutuhkan waktu yang panjang, namun diharapkan ketika anak sudah dilatih untuk membiasakan karakter yang baik, saat anak ke luar dari sekolah juga hasil pendidikan akan bisa terimplementasi dengan baik.

"Membentuk karakter bertahun-tahun dan perlu kesadaran, ketelatenan. Satu bulan, dua bulan belum tampak, satu tahun sudah mulai tampak. Di sila kedua, anak diajak kegiatan sosial, sila ketiga kami ajak jaga persatuan dengan kerja sama dalam kegiatan sekolah. Untuk demokrasi, anak-anak diajak musyawarah termasuk pemilihan ketua OSIS ada pemilu, lalu sila kelima keadilan, anak anak yang pandai kami beri penghargaan," kata dia.

Ia juga sering diundang ke sekolah lain untuk berbagi dalam aplikasi penerapan kurikulum berbasis Pancasila tersebut. Dirinya senang dengan program ini, selain sekolah sering mendapatkan penghargaan juga bisa berbagi informasi dengan sekolah lain, demi meningkatkan pendidikan karakter ke anak.

Satriyani mendapatkan penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Ada 74 ikon atau orang yang juga mendapatkan penghargaan dari badan tersebut, terkait dengan apresiasi prestasi Pancasila pada 2019. (*)

Pewarta : Asmaul Chusna
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar