Wiranto sebut titik api meningkat dari tahun sebelumnya

id Karhutla,kebakaran hutan, asap, kabut asap,Titik api,Wiranto

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto (dua dari kiri) memberikan keterangan kepada awak media massa terkait Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA/ (Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto membenarkan sebaran titik api mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

"Meningkatnya titik api karena gejala alam dan juga ulah manusia," kata dia usai melaksanakan Rakorsus tingkat menteri tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, Jumat.

Secara detail, Wiranto tidak membeberkan berapa kenaikan persentase titik api tersebut. Namun, saat ini kabut asap juga cenderung menyeberang ke negara tetangga.

Akibatnya, kabut asap sudah mulai mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari khususnya wilayah yang terdampak. Selain itu, jadwal penerbangan di sejumlah tempat ikut terkena imbas.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan diperkirakan terjadi pada medio Oktober 2019.

"Musim panas ini akan masih terus berlalu dengan puncaknya di pertengahan Oktober karena masing-masing daerah berbeda," ujar dia.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI Siti Nurbaya Bakar mengatakan hingga kini pemerintah mencatat 103 korporasi di Kalimantan Barat terkena sanksi.

"15 sedang disidik oleh Polda," katanya.

Kemudian, data dari KLHK sendiri untuk wilayah Kalimantan Barat terdapat 29 perusahaan yang disegel sejak minggu ketiga Agustus hingga kemarin. Empat di antaranya merupakan milik Singapura dan Malaysia.

"Saat ini empat korporasi sedang dalam proses sidik," katanya.

Selain di Kalimantan Barat, pemerintah juga menyegel perusahaan di Riau yang diduga terlibat dalam kasus kebakaran hutan dan lahan.

"Jadi sekarang kita intensifkan karena ternyata itu yang relatif efektif," katanya.

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar