Kemenag: Sejumlah negara kagum perilaku tertib jamaah haji Indonesia

id lukman hakim,Jamaah gaji

Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin saat diwawancarai awak media massa terkait sertifikasi produk halal di Jakarta, Kamis (17/10/2019). Sertifikasi halal tersebut ditujukan untuk memberikan jaminan bagi konsumen terutama umat Islam. ANTARA/Muhammad Zulfikar/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama RI menyatakan sejumlah negara besar yaitu Arab Saudi, Turki, Pakistan, Irak, dan India mengakui dan kagum terhadap perilaku tertib jamaah haji asal Indonesia selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

"Pemerintah Saudi Arabia berkali-kali mengakui dengan negara besar lainnya tentang ketertiban jamaah asal Indonesia, hal ini harus dipertahankan," kata Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, Kamis saat konferensi pers survei Indeks Kepuasaan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI).

Menurut Lukman, sebagus apa pun manajemen yang diterapkan oleh suatu negara dalam mengelola jamaah haji, tidak akan berhasil apabila orang tersebut susah untuk diatur.

Baca juga: Kemenag imbau pelaku usaha urus izin sertifikasi halal produk

Menurut dia hal itu menjadi salah satu kunci penting sehingga hasil survei IKJHI pada 2019 mencapai angka 85,91 persen atau kategori sangat memuaskan. Selain itu, pemerintah juga mengutamakan aspek kebersamaan antarlembaga dan kementerian dalam menjalankan amanat Undang-Undang nomor 8 tahun 2019.

"Untuk diketahui setelah kami tiba di Tanah Suci, kita sudah tidak ada lagi mengusung bendera kementerian atau lembaga masing-masing tapi mengutamakan Merah Putih," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan IKJHI tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen dari penyelenggaraan ibadah haji 2018.

"Ini capaian tertinggi sejak indeks kepuasaan haji dilaksanakan pertama kali pada 2010," kata dia.

Survei tersebut dilakukan untuk mengukur keberhasilan IKJHI naik atau turun setiap tahunnya. Selain itu, juga bertujuan menampung saran dan masukan dari para jemaah haji sehingga pelayanan dapat terus ditingkatkan.

Untuk metode pengumpulan data, BPS menggunakan tiga cara. Pertama, menyebarkan 12 macam kuesioner kepada jemaah haji melalui ketua regu yang memiliki anggota 10 orang dalam satu kelompok.

Kemudian, pada 2019 BPS untuk pertama kalinya melakukan survei dalam jaringan (daring) namun baru bisa diterapkan kepada jemaah haji khusus. Seterusnya, petugas melakukan wawancara untuk mengumpulkan berbagai data kualitatif.

"Petugas juga melakukan observasi dengan mendatangi langsung mengamati fasilitas dan layanan yang diterima para jemaah," ujar dia.

Baca juga: Indeks kepuasan jamaah haji naik menjadi 85,91 persen pada 2019


Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar