Pulau Timor positif terserang virus African Swine Fever

id virus asf, ternak babi,African Swine Fever

Semuel Rebo (kiri). (ANTARA/Bernadus Tokan)

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan saat ini pulau Timor telah terserang virus African Swine Fever (ASF) yang kemungkinan masuk dari Timor Leste dan telah menewaskan ratusan ekor ternak babi.

"Hasil pemeriksaan laboratorium sudah terkonfirmasi bahwa positif ASF di Kabupaten Belu dan ini tentu berdampak pada seluruh wilayah di Pulau Timor," kata Asisten II Setda Nusa Tenggara Timur Semuel Rebo kepada Antara di Kupang, Selasa.

Dia mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan seputar virus aneh yang menyerang ternak babi milik petani di Pulau Timor saat ini dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap contoh daging babi di Medan.

Menurut dia, pemerintah baru mendapat hasil laboratorium dari Medan dan menyatakan bahwa virus yang menyerang ternak babi saat ini adalah virus ASF.

Baca juga: Timor Tengah Utara eliminasi serangan virus misterius pada babi

Baca juga: Belum diketahui penyebab kematian ratusan ternak babi di NTT

Baca juga: 47.143 ekor babi di Sumut mati akibat virus ASF


Dia juga mengimbau peternak babi jika melihat gejala aneh, dimana ternak sudah tidak makan, maka segera dipotong untuk dipasarkan.

Langkah ini untuk menghindari kerugian yang lebih besar pada petani peternak, kata mantan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT itu.

Mengenai penanganan, dia mengatakan dalam hubungan dengan virus ini, pemerintah segera menggelar rapat dengan instansi terkait, untuk mengambil langkah-langkah penanganan.

"Sementara itu dulu, karena kami sudah mengundang instansi terkait untuk menggelar rapat pagi ini, Selasa, untuk membahas masalah ini dan langkah penanganan. Hasil rapat koordinasi ini akan disampaikan untuk dipublikasikan," kata Semuel Rebo. *

Baca juga: Kementan segera uji coba vaksin pencegah virus demam babi Afrika

Baca juga: Kementan awasi pemotongan babi untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan

Pewarta : Bernadus Tokan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar