Pasien diduga difteri di Bekasi bertambah lima

id difteri

Ilustrasi - Ruang isolasi yang digunakan untuk merawat pelajar suspect difteri di RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (12/12/2017). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Bekasi (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat adanya penambahan pasien suspek difteri sebanyak lima orang pada Desember 2017.

"Sebelumnya pada Januari-November 2017 ada 12 pasien difteri, delapan di antaranya negatif dan empat di antaranya positif, namun sudah pulih pascaperawatan tim medis," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Kusnanto di Bekasi, Jumat.

Menurut dia, penambahan pasien baru tersebut mayoritas adalah anak usia di bawah lima tahun, hanya satu pasien di antaranya yang berkategori dewasa.

Dikatakan Kusnanto, seluruh terduga difteri itu saat ini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hermina Galaxy, RS Hermina Kemakmuran, RS Awal Bros dan RS Suryanti Suroso Jakarta.

Menurut, dia pasien tersebut saat ini sedang menunggu hasil tes laboratorium terkait penyakit yang dideritanya, apakah difteri atau penyakit lain.

 "Kami butuh waktu sekitar 4-7 hari hingga hasil uji laboratorium keluar. Selama proses uji laboratorium ini, pasien kita sterilkan dengan antibiotik dan menempati ruang isolasi," katanya.

 Kusnanto mengatakan, seorang pasien positif difteri di Kota Bekasi pada 2016 diketahui meninggal dunia akibat keterlambatan proses penanganan medis.

"Satu pasein difteri di Kota Bekasi meninggal tahun lalu, karena keterlambatan penanganan medis," katanya.?

Kusnanto menambahkan, bertambahnya jumlah pasien diduga difteri di Kota Bekasi pada Desember 2017 terjadi pascaberedarnya kabar terkait status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jawa Barat yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.

"KLB difteri ini melibatkan tiga provinsi, salah satunya Jawa Barat. Kota Bekasi adalah bagian dari Jabar, sehingga banyak masyarakat yang mengakses layanan kesehatan untuk melakukan pengecekan gejala penyakit yang serupa difteri," katanya.

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar