Badan Geologi: area terdampak likuifaksi sudah tak layak huni

id area likuifaksi,dampak likuifaksi,dampak gempa palu,gempa donggala,gempa palu,tsunami donggala,tsunami palu

Petugas kesehatan menyemprotkan disinfektan di lokasi terdampak likuifaksi di Petobo Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10/2018), guna mematikan bakteri dari mayat-mayat yang belum ditemukan di areal tersebut. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/ama

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudy Sehendar menyatakan area yang terdampak likuifaksi akibat gempa Palu-Donggala sudah tidak layak huni lagi.

"Area ini akan mulai ditimbun untuk dijadikan memorial park dalam bentuk luar terbuka hijau. Saat ini kita sedang menunggu bondering areanya," kata Rudy dalam siaran pers kementerian, Kamis, mengenai area terdampak likuifaksi di Petobo, Palu.

Badan Geologi tahun 2012 telah melakukan survei yang menunjukkan daerah Petobo dan Balaroa di Palu berisiko tinggi mengalami likuifaksi.

"Berbagai survei telah kami lakukan, di daerah ini tebal lapisan aluvial hingga 14 meter, di beberapa tempat kumulatif lapisan pasirnya hingga 7,2 meter, itu kami temui di Petobo," jelas Rudy.

"Ini sejarahnya merupakan bekas sungai purba dan mengalami pengurukan untuk permukiman warga. Petobo itu juga merupakan daerah lereng panjang, ketika terjadi likuifaksi, strength-nya hilang," katanya.

Ia mengatakan masyarakat yang sebelumnya menghuni wilayah terdampak likuifaksi akan dipindahkan ke daerah yang lebih aman. Kementerian akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk membangun hunian sementara dan hunian tetap bagi mereka.

Baca juga:
Badan Geologi siapkan rekomendasi teknis rekonstruksi Palu

BNPB sarankan daerah petakan risiko likuifaksi
 

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar