"E-book" tak dapat gantikan buku anak, kata psikolog

id e-book,buku anak,psikologi anak,tumbuh kembang anak

Relawan membacakan buku dongeng saat "Bakti Literasi Desa" di Desa Bangoan, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (3/3/2019). Gerakan literasi desa itu dilakukan jaringan relawan "Pena Ananda" untuk menggalakkan semangat membaca dan menulis di kalangan anak-anak, remaja maupun orangtua di desa-desa. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/ama.

Jakarta (ANTARA) - Kehadiran buku elektronik (electronic book/e-book) tidak dapat menggantikan buku anak-anak dalam bentuk cetak yang spesifikasinya dirancang khusus untuk mereka, kata psikolog anak Luh Surini Yulia Savitri dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

"Saat membaca tablet, mereka hanya menggeser-geser layar, sedangkan kalau buku fisik berbeda-beda bentuk dan teksturnya. Terjadi stimulasi sensorik pada buku fisik," katanya saat ditemui pada Selasa di Depok, Jawa Barat.

Keunggulan buku fisik, menurut dia, ada pada banyaknya ragam bentuk dan jenisnya.

Buku untuk anak usia satu sampai dua tahun biasanya dirancang berbahan plastik atau material tahan air sehingga tidak rusak saat terkena air.

Sementara buku-buku untuk anak usia tiga sampai empat tahun, umumnya berbahan kertas tebal sehingga tidak mudah sobek, dan buku untuk anak yang lebih besar kertasnya semakin tipis.

Yulia, yang aktif mengajar di Fakultas Psikologi, mengimbau para orangtua menyisihkan waktu membacakan buku untuk anak.

Selain bisa meningkatkan keterikatan antara orangtua dan anak, menurut dia, kegiatan membaca buku untuk anak juga bisa menjadi sarana untuk membangun literasi, mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung dengan cara yang menyenangkan.

"Tetapi jika orangtua membacakan bukunya dengan suasana hati yang tidak baik, anak dapat merasakannya," kata Yulia mengingatkan.

Keberadaan gawai menghadirkan tantangan bagi orangtua dan anak masa kini. Terlepas dari sisi-sisi positifnya, dengan segenap kemampuannya gawai juga membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.

"Salah satu penyebab anak sekarang cepat sekali berpindah fokus adalah gawai. Dengan gawai, saat bosan ia dapat dengan cepat mengganti tontonan atau permainan," ujar Yulia.

Kalau membaca buku fisik, ia melanjutkan, saat bosan dengan satu buku anak harus meletakkan buku tersebut ke tempat semula sebelum mengambil buku lain. Orangtua pun masih bisa membujuknya untuk kembali menikmati buku tersebut dengan membacanya bersama-sama.

Baca juga:
Buku anak dan resep masakan Indonesia diminati penerbit mancanegara
Tanpa televisi, Maudy Ayunda nikmati masa kecil bersama buku

 

Pewarta : Virna P Setyorini, A Rauf Andar Adipati
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar