Menteri : Kolaborasi pusat-daerah maksimalkan pelayanan kesehatan

id Mentri kesehatan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Djuwita F Moeloek, Sekretaris Eksekutif Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), dr. Djoti Atmodjo didampingi Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday dan jajaran saat memberikan sertifikat akreditasi rumahsakit standar internasional kepada RSUP M Djamil Padang dalam Rakerkesda di Hotel Pangeran Beach, Padang, Senin (15/4). (ANTARA SUMBAR/ist)

Padang (ANTARA) - Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek menyebutkan kolaborasi antara pusat dan daerah akan bisa memaksimalkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

"Kolaborasi itu dalam hal pengelolaan dan penyediaan alat kesehatan, obat-obatan hingga sumber daya manusia, sehingga pelayanan kesehatan dan cakupan layanan akan lebih efektif, sehingga target untuk peningkatan kesehatan masyarakat akan tercapai," katanya di Padang, Senin.

Ia mengatakan itu dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Sumbar 2019 di Padang.

Nila juga mengingatkan pentingnya kegiatan promotif dan preventif yang merupakan implementasi program gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) untuk selalu digalakkan dan digaungkan.

"Adanya Germas, seperti olahraga, makan yang bergizi, cek kesehatan berkala dan lainnya ini dapat meningkatkan kesehatan masyarakat karena ini merupakan salah satu cara hidup sehat, jika sehat maka hidup ini akan lebih produktif. Angka harapan hidup juga akan meningkat," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday menyebut Rakerkesda Sumbar mengangkat lima isu strategis terkait kesehatan di daerah tersebut.

Lima isu itu masing-masing percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal (AKN), percepatan penurunan stunting, percepatan eliminasi TBC, peningkatan cakupan mutu imunisasi serta peningkatan pencegahan pengendalian penyakit tidak menular.

"Agar berjalan maksimal perlu pendekatan sentuhan sosial melalui program yang kita miliki," ujarnya.

Terkait stunting, dari data riskesdas, angkanya sudah menurun. Pada 2013 berada pada angka 39,2 menurun pada 2018 menjadi 30.

Sedangkan, analisis situasi tuberkolosis di Sumbar dari target 70 persen pada tahun 2018, baru mencapai 46 persen.

"Maka, untuk itu peranan semua pihak untuk meningkatkan angka capaian ini, baik provinsi, kabupaten dan kota serta stakeholder terkait," katanya.

Lalu untuk peningkatan cakupan imunisasi di Sumbar yang terealisasi baru pada angka 74,2 persen pada tahun 2018, masih kurang dari capaian target yang diminta yakni 80 persen. Belum mencapai targetnya capaian imunisasi ini kemungkinan dipengaruhi dari imunisasi realisasi rubella.

"Untuk penyakit tidak menular di Sumbar, usia diatas 15 tahun pada tahun 2018, yakni hipertensi berada diangka 25,1 persen dan diabetes diangka 1,3 persen, " ungkapnya.

Dari data lima isu yang dipaparkan itu, tutur Merry, masih ada berapa pencapaian yang belum sesuai target.

Maka untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan melakukan gerakan aksi bersama dengan kabupaten dan kota di Sumbar untuk mencapai target dari lima isu yang dipaparkan ini.

"Kita akan membentuk tim percepatan ini, melakukan upaya aktif dan edukasi, penguatan sarana dan prasarana serta melaksanakan gerakan masyarakat, seperti yang telah dilakukan tiga bulan berjalan di kegiatan Car Free Day (CFD)," katanya.


Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dengan adanya rakerkesda ini diharapkan dapat mencari solusi dalam menyusun rencana aksi di daerah terkait kesehatan. Apalagi, rencana aksi itu mengkompakan antara pusat provinsi, kabupaten dan kota.

"Adanya kekompakan antara pusat dan daerah ini, maka secara umum akan berhasil untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, kemudian pelayanan kesehatan, sehingga tingkat harapan hidup juga turut meningkat," ujarnya.


Pewarta : Miko Elfisha
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar