Polres Singkawang gagalkan pengiriman warga yang diduga korban TPPO

id Polres singkawang,TPPO,Tjhai Sui Mie,Singkawang

Sekjen Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Bobby Anwar Maarif (kanan) bersama Ketua DPC SBMI Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar) Mahadir (kiri), Pengacara Publik LBH Jakarta Oki Wiratama (kedua kanan) dan korban kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Monica (kedua kiri) menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers, di Jakarta, Sabtu (23/6/2019). LBH Jakarta bersama Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) yang tergabung dalam Jaringan Buruh Migran mengatakan sebanyak 13 perempuan asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan 16 perempuan asal Jawa Barat menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus perkawinan (pengantin pesanan). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/ama. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Pontianak (ANTARA) - Polres Singkawang menggagalkan pengiriman warga yang diduga korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) tepatnya di daerah Sakok, Kecamatan Singkawang Selatan, Kalimantan Barat.

"Dalam penangkapan yang dilakukan pada Selasa (25/6) kemarin melibatkan Tim Unit Buser dan PPA Polres Singkawang. Anggota berhasil mengamankan seorang sopir sekaligus yang diduga sebagai pelaku TPPO berinisial NKN," kata KBO Satreskrim Polres Singkawang Iptu Suprihatin didampingi Kanit PPA Polres Singkawang Ipda Indah di Singkawang, Jumat.

Terduga saat itu membawa tiga orang penumpang yang diduga sebagai korban TPPO dari Mayasofa, Kecamatan Singkawang Timur. Tujuan TPPO menuju ke Negara Tiongkok untuk melaksanakan pernikahan.

"Namun sebelum sampai ke negara tujuan, polisi mendapatkan informasi dari masyarakat terkait adanya dugaan TPPO, sehingga dilakukanlah pencegatan terhadap mobil terduga tepatnya di daerah Sakok, Kecamatan Singkawang Selatan," ujarnya.

Baca juga: Korban TPPO modus pengantin alami kesulitan bernafas dan eksploitasi

Baca juga: Jarnas Anti TPPO: Korban TPPO harus dapat rehabilitasi optimal


Saat ini, penyidikan dan pengembangan kepada terduga masih terus berlanjut guna menuntaskan permasalahan ini sampai ke akar-akarnya.

Disamping mengamankan terduga, pihaknya juga telah mengamankan barang bukti berupa tiga unit ponsel, satu unit mobil warna hitam KB 1658 PB, satu bundel salinan KTP, KK dan paspor, satu lembar tiket pesawat jurusan Pontianak-Jakarta atas nama Sella, Asen dan A'on serta uang tunai senilai Rp2 juta yang hanya tersisa Rp1,2 juta karena sudah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Atas perbuatannya, terduga dikenakan Pasal 4 Jo Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 10 UU No.21 tahun 2007 tentang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan hukuman minimal 3 tahun dan paling lama 15 tahun penjara serta denda paling sedikit Rp120 juta dan paling banyak Rp600 juta.

Baca juga: SBMI:10 dari 13 korban TPPO asal Kalimantan Barat kembali ke Indonesia

Baca juga: Korban TPPO modus pengantin melibatkan anak di bawah umur


Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, sebelum menikah ada baiknya para kaum wanita sudah harus mempersiapkan diri dengan keahlian baik dari segi pendidikan, keterampilan serta bisa menguasai bagaimana cara beradaptasi ketika sudah menikah dan tinggal di negeri orang.

"Dengan sudah ada kesiapan tersebut, saya yakin dimanapun kita berada para kaum wanita tidak mudah di intimidasi oleh siapapun," katanya.

Menurut dia, seorang wanita harus bisa mandiri tanpa harus meminta-minta kepada suami. Namun yang terpenting warga Singkawang jangan mudah percaya dengan segala bentuk bujuk rayuan apalagi ada orang yang berjanji bisa membuat hidup jauh lebih baik.

"Karena di negara orang kita tidak tahu di sananya seperti," ujarnya.

Pewarta : Rendra Oxtora
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar