Meningkatkan pemahaman warga terhadap mitigasi bencana

id Kesiapsiagaan bencana

Ilustrasi - Sejumlah warga korban gempa berada di tempat pengungsian di Desa Balitata Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Kamis (18/7/2019). (ANTARA FOTO/Desi Purnamawati/pras).

Ternate (ANTARA) - Usman bersama isteri dan ketiga anaknya sedang duduk sambil mengobrol di ruang tengah rumahnya ketika merasakan getaran kuat. Mereka kemudian menyadari bahwa getaran tersebut ternyata gempa bumi sehingga semuanya langsung berlari keluar dari rumah itu.

Beberapa detik setelah berada di luar rumah terdengar suara keras dari dalam rumah itu yang ternyata berasal dari dinding tembok dan plafon rumah yang ambruk akibat kuatnya getaran gempa.

Tanpa mempedulikan kondisi rumah dan barang-barang yang ada di dalamnya, mereka langsung bergegas menuju daerah ketinggian, karena karena khawatir gempa itu akan menimbulkan tsunami, seperti yang terjadi di Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.

Usman beserta seluruh anggota keluarganya dan ribuan warga lainnya di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara (Malut) dapat menyelamatkan diri dari dampak gempa yang mengguncang daerah itu pada Minggu (14/7). Hal itu, karena mereka mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu menghadapi bencana alam, berupa gempa atau tsunami.

Warga memiliki pemahaman tentang mitigasi bencana seperti itu karena sosialisasi yang dilakukan berbagai pihak terkait selama ini, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Banda Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Mereka juga mendapat pengetahuan mitigasi bencana dari tayangan televisi dan siaran radio saat memberitakan gempa bumi dan tsunami yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Dalam pemberitaan itu, menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan jika menghadapi gempa bumi atau tsunami.

Warga di Kabupaten Halmahera Selatan, termasuk di kabupaten dan kota lainnya di Malut, selama ini sudah sering merasakan guncangan gempa bumi karena daerah setempat memang rawan gempa. Namun, baru pada gempa kali ini yang sampai mengakibatkan dampak yang sangat besar.

Melihat kekuatan gempa yang 7,2 Skala Richter dan dampak kerusakan terhadap rumah warga akibat gempa di Halmahera Selatan itu, menurut Sekretaris BPBD Malut Ali Yau, semula dikhawatirkan akan menimbulkan korban jiwa yang banyak, seperti pada gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu.

Lebih dari 1.000 rumah warga di sembilan kecamatan terdampak gempa di Halmahera Selatan mengalami rusak berat, bahkan banyak yang sampai rata dengan tanah akibat kuatnya gempa yang berpusat di daratan setempat tersebut.

Namun, sesuai hasil pendataan BPBD, jumlah warga yang meninggal akibat gempa itu hanya tujuh orang, dua orang di antaranya meninggal saat berada di pengungsian karena sakit, sedangkan yang luka-luka lebih dari 40 orang.

Kalau warga tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa, dipastikan akan jauh lebih banyak korban jiwa yang jatuh akibat bencana alam tersebut. Apalagi, gempa terjadi sekitar pukul 18.20 WIT, saat warga pada umumnya telah berada di rumah.

                                                                               Konstruksi rumah
Pemahaman warga di Halmahera Selatan terhadap mitigasi bencana gempa dan tsunami sepertinya masih sebatas tentang bagaimana mereka bisa menyelamatkan diri, akan tetapi belum sampai hal-hal menyangkut bagaimana membangun konstruksi rumah yang tahan gempa.

Banyaknya rumah warga yang rusak akibat guncangan gempa pada Minggu pekan lalu itu, bahkan sampai rata dengan tanah, menjadi bukti bahwa saat mereka membangun rumah, konstruksinya tidak mempertimbangkan jika sewaktu-waktu terjadi gempa.

BPBD dan instansi terkait lainnya harus menyosialisasikan konstruksi rumah yang tahan gempa, terutama kepada korban gempa saat mereka akan membangun kembali rumahnya, agar jika terjadi gempa kerusakan rumah mereka bisa diminimalisasi.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Ternate Kustoro Hari Atmoko mengatakan gempa bumi sebenarnya tidak membahayakan warga. Akan tetapi, hal yang membahayakan mereka ketika rumah atau bangunan roboh dan menimpa warga.

Di situlah pentingnya warga saat membangun rumah harus benar-benar mempertimbangkan faktor risiko gempa, apalagi wilayah Malut merupakan daerah rawan gempa. Hingga saat ini, gempa bumi tidak bisa diprediksi kapan terjadi dan di mana lokasinya.

Wilayah Malut rawan gempa karena diapit lempeng aktif, yakni Lempeng Pasifik, Lempeng Eurusia, dan Lempeng Indo Australia, di samping sejumlah lempeng lokal, seperti Lempeng Halmahera, Lempeng Sula, serta Lempeng Maluku.

Dalam setiap tahun terjadi ribuan kali gempa di wilayah Malut namun tidak semuanya bisa dirasakan manusia, seperti setelah terjadi gempa utama berkekuatan 7,2 SR di Halmahera Selatan pada Minggu pekan lalu yang disusul dengan terjadinya gempa lebih dari 100 kali. Namun, yang dirasakan hanya sebagian kecil.

Seorang ahli konstruksi bangunan di Malut, Sudirman, melihat daerah ini sebenarnya memiliki kearifan lokal dalam membangun rumah tahan gempa yang diwariskan para leluhur, sejak zaman dahulu.

Warga Kota Ternate dan Kota Tidore misalnya, sejak dahulu membangun rumah dengan konstruksi kayu yang dikenal dengan nama rumah kanci, yang dari segi konstruksinya sangat kuat dalam menahan guncangan gempa.

Setiap terjadi gempa di Ternate dan Tidore Kepulauan dengan kekuatan besar 7,0 SR seperti pada awal Juli 2019, rumah warga setempat yang dibangun dengan konstruksi rumah kanci itu tidak mengalami kerusakan sedikit pun.

Untuk membangun rumah seperti itu di Malut tidak terlalu sulit karena di daerah setempat masih banyak terdapat kayu, seperti kayu besi dan kayu gufasa. Jenis kayu itu sangat baik untuk konstruksi rumah.

Perlu adanya program dari pemerintah daerah setempat untuk memasyarakatkan rumah dengan konstruksi rumah kanci.
 

Pewarta : La Ode Aminuddin
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar