Jakarta
(antarasulteng.com) - Gigantopithecus, kera terbesar yang pernah diketahui,
kemungkinan punah karena diet buah berkadar gizi rendah.
Sekitar
80 tahun silam, antropolog Belanda Gustav Heinrich Ralph von
Koenigswald menemukan gigi raksasa di toko obat di Hongkong, dan dari
situlah Gigantopithecus itu dinamai kingkong.
Sejak itu, ribuan gigi raksasa -dan tiga tulang rahang– muncul di Asia selatan.
Gigi-gigi
raksasa dan tulang rahang itu menunjukkan bahwa Gigantopithecus bisa
bertinggi 3 meter sehingga membuatnya kera terbesar yang pernah dikenal
dan kemungkinan besar ada hubungannya dengan orang utan.
Namun penyebab mengapa hewan ini punah, belum jelas terungkap, kutip New Scientist.
Tapi
kini Yingqi Zhang dari Laboratorium Sistematika Evolusi Vertebrata pada
Akademi Sains China di Beijing, telah menganalisis 17 gigi baru
Gigantopithecus.
Berumur kira-kira 400 ribu
tahun, gigi-gigi kera raksasa ini adalah diantara yang paling muda dari
sisa kera yang pernah ditemukan. Artinya, gigi-gigi ini milik para kera
raksasa terakhir yang berjalan di Bumi.
Kebanyakan dari gigi-gigi ini tergerus yang menunjukkan ada masalah pada pola makan mereka, kata Zhang.
"Ada sesuatu yang buruk sebelum punahnya Gigantopithecus, dan saya kira itu berasal dari makanan," sambung Zhang.
Kera
raksasa ini harus mengubah pola makannya karena iklim menjadi dingin
dan makanan kesukaan mereka --kemungkinan besar bambu-- menjadi langka
ditemukan.
Gigi mereka menunjukkan kera-kera itu berubah melahap buah rendah gizi namun kaya asam pengikis lapisan email, kata Zhang.
Tapi
buah itu bagus untuk kebanyakan kera, kata Kornelius Kupczik dari
Institut Antropologi Evolusioner Max Planck di Leipzig, Jerman.
"Simpanse
melahap banyak buah-buahan yang sangat pahit atau berasam bagi mulut
manusia," kata dia, tapi gigi simpanse tidak rusak.