Tanah lapang itu menjelma jadi pasar kaget. Sudah lima hari lamanya, orang-orang berdesak-desakan di antara riuh pengeras suara para penjaja dagangan.

Sementara di jalan raya yang tak begitu lebar, tidak jauh dari lokasi itu, arus kendaraan bermotor mengular dan macet, petasan menyalak di sembarang tempat sedang bunga api menyala di langit.

Itulah suasana yang terjadi di desa Payunga, Kecamatan  Batudaa, Kabupaten Gorontalo pada malam keenam belas bulan suci Ramadhan 1433 Hijriyah.

Sabtu malam itu (4/8) adalah pasar terakhir pada puncak perayaan malam Qunut, malam dimana orang memanjatkan doa di tengah shalat witir.

Adapun pasar yang digelar setiap malam Qunut itu, memiliki keunikan tersendiri, sebab  dimana-mana terlihat penjaja buah pisang dan kacang.

"Saya berjualan pisang dan kacang hanya satu tahun sekali, yakni setiap malam Qunut," ujar Iwan Yusuf (36), salah satu pedagang kacang yang ditemui sela kesibukannya melayani pembeli.

Pada hari biasanya, Iwan berprofesi sebagai pedagang ikan keliling. Dia mengaku menjadi penjual kacang dan pisang dadakan  karena ingin mendapatkan penghasilan ekstra di bulan Ramadhan.

Hasilnya cukup lumayan untuk  membeli berbagai keperluan lebaran keluarga, kata dia.

Malam itu, Iwan menyiapkan kacang sebanyak dua ratus liter dan bertandan-tandan pisang yang dibelinya dari sejumlah pemilik kebun di sekitar kecamatan Batudaa.

Dengan harga seliter kacang tujuh ribu rupiah dan sesisir pisang antara lima ribu hingga 15 ribu rupiah, pria itu berharap turut merasakan berkah rejeki pada perayaan  malam Qunut itu.

Namun lain halnya dengan Win Tasa, perempuan paruh baya yang juga turut berjualan pisang dan kacang di pasar Qunut itu.

Menurut dia, pendapatannya pada tahun ini agak menurun, meski dia sudah banting harga kacang sebesar enam ribu seliter.

Sebabnya bukan karena saingan sesama pedagang kacang tapi karena bisnis judi yang turut serta, matanya melirik ke sebuah tempat di samping jualannya yang ramai pengunjung dengan deretan orang yang berlomba melempar deretan benda dengan sebuah bola.

Menurut dia pada perayaan Qunut tahun lalu, arena judi lempar bola berhadiah itu masih cukup jarang.

Namun kini, masyarakat lebih suka main lempar bola ketimbang beli pisang dan kacang, kali ini dia melirik tumpukan kacang dagangannya yang masih cukup membukit.

Keramaian malam Qunut di Batudaa tidak hanya terpusat di tanah lapang, namun juga terlihat di hampir seluruh perumahan warga.

Bahkan pada banyak rumah, tersedia meja prasmanan di beranda, pisang dan kacang adalah menu utama, pelengkapnya kue dan penganan lainnya bahkan menu berat yakni nasi berikut lauk pauknya.

Debby dan Ismail Giu, salah seorang warga yang turut memeriahkan malam qunut mengaku, tidak hanya mengundang sanak keluarganya, namun juga turut mengudang rekan-rekan kerjanya.

Malam Qunut adalah momentum penting untuk bersilaturahmi bersama keluarga, kerabat dan rekan, begitu pasangan suami istri itu   memaknai arti perayaan makan pisang dan kacang.

Namun satu hal yang cukup disayangkan, lanjut keduanya, justru pada perayaan malam Qunut itu masjid-masjid mendadak lenggang, hanya menyisakan dua baris jamaah shalat Tarawih.

Awal Mula

Tahir Anggio (75), pemuka adat dan salah satu sepuh di desa itu menceritakan awal mula tradisi pisang dan kacang setiap malam Qunut.

Menurut dia, pada mulanya hanya ada dua orang tua penjaja  pisang dan kacang bernama Iki dan Bali Abu, mereka mulai terlihat berjualan di pasar desa tersebut sekitar tahun 1950-an.

Uniknya, mereka hanya berjualan setiap malam pertengahan bulan suci Ramadhan, saat malam Qunut tiba.

"Warga yang hendak salat tarawih di mesjid kampung itu, biasanya melakukan ritual mandi di sumur mesjid, seusai shalat mereka biasanya menyambangi penjaja pisang dan kacang yang dijual kakek Iki dan Bali Abu," ujarnya.

Para pembeli pada saat itu didominasi oleh kalangan muda,  mereka membungkus kacang pada sehelai sapu tangan, lalu dimakan bersama pisang sambil berjalan pulang menuju rumah.  

Dari tahun ke tahun, setiap malam qunut tiba, semakin banyak penjaja kacang dan pisang yang berjualan pasar desa tersebut, kian  banyak pula peminatnya, tidak hanya warga dari desa tersebut, namun meluas hingga di kampung kampung sebelah.

Kebiasaan yang lambat laun menjadi tradisi ini, sudah mulai tersohor di seluruh Gorontalo, setidaknya seperti yang terjadi pada malam qunut Ramadan kali ini, ramai dan penuh sesak kendaraan bermotor, kata dia.

Saking ramainya, akhirnya pemerintah desa memindahkan lokasi pasar itu ke tanah lapang.

Terlepas dari hal-hal yang berkembang nantinya, lanjut Tahir, tradisi ini masih terus dipertahankan warga.

Di sela kunyah renyah kacang berteman pisang, hubungan silaturahmi antar sesama terus dijaga agar terikat erat.***

Pewarta : Oleh Syamsul Huda M. Suhari
Editor :
Copyright © ANTARA 2024