Cirebon (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, sistem face recognition atau biometrik wajah ampuh menghalangi adanya penyalahgunaan program Kartu Prakerja.

“Nah kita kembalikan menggunakan face recognition, karena kita sudah lihat dari awal akan ada fraud kalau tidak kuat dari segi security-nya, dari digital. Dan sekarang face recognition menjadi salah satu security untuk program ini,” kata Menko Airlangga di Cirebon, Jumat.

Hal itu ia sampaikan terkait adanya beberapa penyalahgunaan program Kartu Prakerja mulai dari pencurian data

Selain sistem biometrik wajah, Direktur Eksekutif Prakerja Denni Puspa Purbasari menjelaskan adanya sistem otorisasi sebagai sistem keamanan pada program Kartu Prakerja yang turut membantu meminimalisir terjadinya penyalahgunaan .

Sistem itu membuat peserta Prakerja harus memasukan kode dan nomor Kartu Prakerjanya terlebih dahulu sebagai alat pembayaran untuk membeli kursus yang diinginkan. Pada pelatihan luring pun peserta juga harus memakai QR Code hingga pengecekan wajah guna membatasi adanya penyalahgunaan.

“Kalau pelatihannya kita redemption itu ada kodenya yang harusnya dipakai oleh si peserta sendiri, sedangkan untuk pelatihan offline, itu kemudian harus pake QR Code dan pengecekan wajah. Itu sistemnya sudah ada, jadi itu dibuat sendiri sistemnya, oleh vendor Prakerja. Untuk membatasi terjadinya penyalahgunaan,” jelas Denni.

Denni berharap, penyalahgunaan program Kartu Prakerja dapat diatasi dengan kerjasama serta pengawasan yang baik antara Project Management Office (PMO) Prakerja dan para peserta.

Program Kartu Prakerja telah menjadi salah satu game changer di masa pandemi COVID-19. Program tersebut turut mengubah hidup penerima manfaatnya. Bahkan program Kartu Prakerja menjadi program government to people pertama inisiasi Indonesia yang mana telah menarik perhatian dunia internasional serta dapat direplikasi di negara lain.


 



 


Pewarta : Bayu Saputra
Editor : Andilala
Copyright © ANTARA 2024