Palu (ANTARA) -
PT Pertamina Patra Niaga mengatakan sekitar 91,5 persen atau 358.477 kiloliter Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis pertalite telah terdistribusi di Provinsi Sulawesi Tengah hingga November 2023.
 
"Masih ada 8,5 persen kuota yang harus dipenuhi hingga Desember mendatang," kata Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Fahrougi Andriani Sumampouw melalui keterangan tertulisnya diterima di Palu, Rabu.
 
Ia menjelaskan, kuota pertalite untuk Sulteng di tahun ini sebanyak 391.648 kiloliter, jumlah itu sesuai dengan usulan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.
 
Menurut Pertamina, hingga kini ketahanan stok BBM subsidi sangat memadai dan masyarakat diminta tidak panik berlebihan serta bijak menggunakan produk bersubsidi.
 
"Kami berharap konsumen bijaksana menggunakan produk. Kami telah menyediakan produk sesuai penugasan Public Service Obligation (PSO) dan produk non PSO sebagai alternatif supaya BBM subsidi tidak terganggu dan tepat sasaran," ujarnya.
 
Ia mengemukakan, berbeda dengan BBM jenis solar, hingga di periode yang sama realisasi produk gasoli (solar) bersubsidi telah mengalami kelebihan kuota 2,1 persen dengan jumlah realisasi 102,1 persen atau sebanyak 126.993 kiloliter dari jumlah kuota 124.337 kiloliter.
 
Secara keseluruhan realisasi distribusi di wilayah Sulawesi baik dan berdasarkan kuota, Sulawesi Selatan paling tinggi dengan jumlah 1.094.351 kiloliter, terealisasi 1.014.708 kiloliter atau 92,7 persen.
 
Kemudian urutan kedua Sulawesi Tengah 391.648 kiloliter, di susul Sulawesi Utara sebanyak 367.641 kiloliter, terealisasi 335.079 kiloliter atau 91,1 persen, Sulawesi Tenggara dan Barat masing-masing memiliki kuota 127.028 kiloliter.
 
"Kuota Provinsi Gorontalo 143.392 kiloliter dan terealisasi 128.328 kiloliter atau 89,5 persen," ucap Fahrougi.
 
Ia juga menyediakan BBM ramah lingkungan yang lebih berkualitas sebagai antisipasi peningkatan konsumsi BBM subsidi.
 
Produk ramah lingkungan dimaksud yakni pertamax RON 92, pertamax turobo RON 98 untuk kelompok produk gasoline, sedangkan kelompok gasoil terdiri dari dex lite dan Pertamina dex untuk kendaraan mesin diesel.
 
"Semua sudah punya porsi masing-masing, dan produk-produk ini menjadi pilihan di luar dari produk bersubsidi, karena produk bersubsidi memiliki kuota sehingga penggunaannya sangat terbatas, berbeda dengan non subsidi," kata Fahrougi.

Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor : Andilala
Copyright © ANTARA 2024