Jakarta (ANTARA) - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menekankan bahwa strategi utama pemerintah untuk memperkuat nilai rupiah adalah dengan penguatan fundamental ekonomi nasional.
Ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, Prasetyo mengatakan bahwa tim ekonomi yang terdiri dari Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi, serta Danantara secara rutin berkoordinasi untuk menyelaraskan kebijakan yang saling berkaitan.
"Yang paling penting adalah bagaimana kemudian kita memastikan bahwa fundamental ekonomi kita itu kuat. Kemudian sektor-sektor riil bagaimana didorong untuk itu tumbuh dan berkembang," ujar Prasetyo.
Prasetyo menyampaikan bahwa pertemuan dengan para pemimpin ekonomi di Kabinet Merah Putih di Jakarta, Rabu (21/1), tidak secara khusus membahas soal nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh angka Rp17 ribu.
Menurutnya, pertemuan tersebut dilaksanakan untuk melaporkan dan saling berkoordinasi terkait dengan kebijakan masing-masing.
Dengan koordinasi yang erat antara kementerian dan lembaga, lanjut Prasetyo, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah dapat terjaga di tengah dinamika global.
"Kalau kita bicara ekonomi, maka sebuah kebijakan di satu kementerian atau lembaga itu akan seling berkaitan dengan yang lainnya. Jadi itu rutin saja," terangnya.
Selain itu, optimalisasi belanja pemerintah di awal tahun juga menjadi salah satu fokus pembahasan.
Pemerintah menilai percepatan dan efektivitas belanja negara dapat berperan sebagai stimulus ekonomi yang turut menopang stabilitas makroekonomi, termasuk nilai tukar.
"Di awal tahun, seperti biasa, government spending kita juga kemarin salah satu yang dibahas karena kita menghendaki di awal tahun belanja pemerintah juga sudah bisa optimum. Karena ini bagian dari salah satu stimulus ekonomi," imbuh Prasetyo.
Sebagai informasi, Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak menguat 40 poin atau 0,24 persen menjadi Rp16.896 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.936 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan kurs rupiah dipengaruhi sikap melunak Presiden AS Donald Trump terkait persoalan Greenland.
“Pada Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan mengenakan tarif terkait Greenland setelah mencapai ‘kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan’ dengan pihak-pihak terkait. Ia juga mencatat bahwa AS akan terlibat dalam hak mineral Greenland,” kata dia kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.